Ilustrasi Jokowi-Prabowo (@daviddj)
Ilustrasi Jokowi-Prabowo (@daviddj)

MALANGTIMES - Tungku api politik di Jakarta masih terbilang panas. Walaupun sudah bergeser hawa panasnya, dari kehebohan Pilpres 2019 ke arah "jatah" kue kekuasaan dalam pemerintahan.

Hawa panas itu terlihat dari berbagai pertemuan partai politik pendukung Jokowi-Ma'ruf, secara terpisah dan waktu berbeda. Tentunya dengan berbagai drama yang membuat masyarakat dibuatnya penasaran dengan berbagai manuver politiknya.

Senin (22/07/2019) malam, berlokasi di kantor DPP NasDem, Gondangdia, Jakarta Pusat, 4 ketua umum parpol koalisi Jokowi berkumpul. Yakni, Ketua Umum NasDem Surya Paloh, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto dan Plt Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa. Minus Ketua Umum PDI-Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

Sontak saja pertemuan ini memancing rasa penasaran masyarakat. Berbagai dugaan terkait pertemuan MRT dan masifnya penawaran program dan kadernya dari parpol pendukung Prabowo kepada Jokowi telah membuat koalisinya melakukan pertemuan. Minus PDI-Perjuangan yang notabene partainya presiden terpilih.

Nasdem, PKB, PPP, dan Golkar pun menyolidkan Koalisi Indonesia Kerja (KIK) dan menolak penambahan anggota partai baru dalam koalisi. Pertemuan itu pula sebagai pesan kepada Jokowi untuk negosiasi ulang pasca pemilu 2019.

"Kalau dari pertemuan keempat ketum tersebut kan mereka ingin tidak ada penambahan partai baru dalam koalisi. Hal itu yang ingin dinegosiasikan dengan Jokowi, mereka ingin memberikan pesan kepada Jokowi bahwa mereka tidak main-main," ucap peneliti dan pengamat politik CSIS, Arya Fernandes.

Walau asumsi itu ditolak oleh 4 ketum parpol koalisi KIK, tapi aroma "perang pertemuan" terus berjalan. Misalnya, seperti yang disampaikan Surya Paloh, Ketum NasDem, yang mengatakan, pertemuan mereka tanpa PDI-Perjuangan, dikarenakan Megawati sedang sibuk mempersiapkan kongres.

"Kami sadar Ibu Mega sedang sibuk, sehingga tidak bisa hadir dalam pertemuan ini. Tujuan pertemuan ini untuk konsolidasi koalisi dan soliditas kami agar terus terjaga dan tetap bersepakat bersama," ujar Paloh yang juga diamini oleh tiga ketum parpol lainnya.

Koalisi dalam koalisi yang merebak dalam masyarakat melihat berbagai manuver politik menjelang "bagi-bagi kue" kekuasaan. 

Sebenarnya sudah terlihat runcing sebelum berbagai pertemuan yang dilakukan parpol koalisi Jokowi. Dimana PKB, misalnya, secara terang-terangan menyampaikan permintaan jatah kursi untuk kadernya. Bahkan, PKB adalah parpol koalisi yang paling aktif terkait itu, dibandingkan dengan Golkar, NasDem, atau PPP.

Bahkan PDI-Perjuangan sampai saat ini belum mengajukan nama-nama kadernya dan terlihat tidak banyak bicara terkait jatah kursi.
Sekjen PDI-Perjuangan Hasto Kristiyanto, menegaskan hal itu. 

"Tidak ada jatah-jatah menteri. Menteri itu bukan pegawai biasa. Kita percaya ada Pak Jokowi terkait keputusan itu," ujarnya yang senada dengan yang disampaikan oleh Megawati dalam pertemuan antara partainya dengan Prabowo di rumahnya, Rabu (24/07/2019) lalu.

Pertemuan yang juga membuat parpol koalisi Jokowi semakin mengencangkan juga manuver politiknya. Seperti yang dilakukan oleh NasDem yang mengundang Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, serta memujinya cukup tinggi. Selain tentunya juga pernyataan politis Surya Paloh untuk mendukung lahir dan batin bagi Anies menjadi calon presiden 2024 datang.

Megawati secara tegas menyampaikan, bahwa sudah tidak ada koalisi dan oposisi. "Berbeda dalam pilihan monggo saja, dialog tetap diperlukan. Terkait kursi menteri, semuanya adalah keputusan presiden. Kalau saya dimintai  usulan saya bisa usulkan," ucapnya saat bersama Prabowo.

Pertemuan Megawati-Prabowo yang dinamai pertemuan nasi goreng ini, merupakan kelanjutan pertemuan MRT. Hal ini secara langsung disampaikan Hasto, bahwa pertemuan itu merupakan bagian dalam membangun komunikasi yang ditugaskan oleh presiden. Maka, tak heran dalam pertemuan nasi goreng itu, sosok Budi Gunawan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) terlihat diantara para tokoh PDI-Perjuangan dan Gerindra. 

"Pak Jokowi yang menugaskan pak Budi untuk membangun komunikasi. Ini penugasan dari presiden," ujarnya menjawab keheranan media atas keberadaan Budi dalam pertemuan itu.

Sinyal kuat Gerindra terus merapat dan pernyataan Megawati terkait "tidak ada koalisi dan oposisi" yang membuat parpol koalisi Jokowi terus juga melakukan manuvernya. Nama-nama calon menteri telah diajukan oleh mereka, penguatan soliditas dikencangkan, dan pernyataan-pernyataan politis dilempar ke publik.

Akankah parpol koalisi Jokowi pecah? Saat Jokowi pun sejak awal telah menyampaikan, akan mengoplos kabinetnya dari kalangan profesional dan parpol. Bola panas ada di tangan Jokowi dalam memilih siapa saja yang akan jadi pembantunya nanti.