Puskesmas Arjuno (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

Puskesmas Arjuno (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Menangani pasien yang memiliki gangguan jiwa tidaklah mudah. Terlebih jika seorang pasien dengan kesehatan jiwa ini memasuki kategori sedang dan berat.

Namun, Puskesmas Arjuno punya cara berbeda dalam menangani pasien-pasien dengan gangguan kejiawaan ini. Ya, melalui inovasi 'Sasa Bikin Sedap' (Safari Kesehatan Jiwa Bikin Sehat Aktif dan Produktif) inilah yang gencar dilakukan oleh petugas kesehatan selama enam bulan terakhir ini.

Kepala Puskesmas Arjuno Kota Malang dr Umar Usman mengatakan dari tiga kategori pasien gangguan jiwa, yakni kategori ringan, sedang dan berat Puskesmas Arjuno fokus kepada pasien dengan kategori sedang-berat.

Menurutnya, melalui program kesehatan jiwa ini semua pasien diberikan pembinaan untuk menjadi pribadi yang lebih produktif. "Melalui 'Sasa Bikin Sedap' ini, selain dilakukan pemantauan minum obat yang rutin, maka setiap pasien yang mengalami gangguan jiwa semuanya dibina untuk dibekali keterampilan khusus," ujar dia.

Nantinya melalui pembinaan tersebut, setiap pasien yang mulai berangsur normal akan dapat memiliki gairah semangat hidup layaknya orang normal pada umumnya. Rasa psikologis untuk memiliki beban hidup yang suram diharapkan juga akan pudar.

Beberapa yang sudah dilakukan, seperti memberikan pembinaan pelatihan home industry dengan membuat kerajinan tangan dengan bahan-bahan daur ulang.

"Dengan keterampilan khusus ini, nantinya akan diajak membuat hiasan-hiasan dari barang bekas. Prinsipnya membantu untuk memfasilitasi supaya mereka bisa berproduksi dan berkarya. Dengan begitu sedikit banyak busa membangkitkan gairah hidupnya lagi, kemudian mereka juga menghasilkan perekonomian yang baik," imbuhnya.

Apalagi, stigma di masyarakat saat ini menilai jika pasien gangguan jiwa terutama kategori berat dianggap meresahkan. Dimana pasien ini terkadang melakukan aksi diluar dugaan, seperti mengamuk, mengganggu dengan membawa senjata tajam.

Padahal pemicunya, karena pasien tidak meminum obatnya secara teratur. Sehingga menjadikan pusat pengendalian saraf otak terganggu, dan nenjadikan pasien melakukan hal yang bisa mengganggu lingkungannya.

"Inilah yang juga harus diperhatikan, saling berantai begitu antara minum obat dan lingkungannya harus seimbang. Dengan masyarakat tidak menjauhi, kemudian ada interaksi juga dengan keluarga. Janhan sampai pasien dibiarkan sendiri, pasti mereka akan lebih merasa baik dan tidak menderita lagi," pungkas dia.

End of content

No more pages to load