Butuh Sampah 1.000 Ton/Perhari, TPA Randuagung Akan Disulap Jadi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah

Jul 23, 2019 19:39
TPA Randuagung, Singosari, yang direncanakan dibangun jadi PLTSampah oleh Pemkab Malang (Ist)
TPA Randuagung, Singosari, yang direncanakan dibangun jadi PLTSampah oleh Pemkab Malang (Ist)

MALANGTIMES - Pemerintah Kabupaten (pemkab) Malang akan sangat membutuhkan sampah dengan kapasitas besar. Kebutuhan sampah bisa mencapai 1.000 ton setiap harinya di salah satu tempat pembuangan akhir (TPA) Randuagung, Singosari.

Baca Juga : Terkuak, Data Petani Terkena Limbah Greenfields Sejak Tahun Lalu Telah Dilaporkan, Tapi...

Jumlah sampah dengan kapasitas besar tersebut menjadi kebutuhan di TPA Randuagung, apabila rencana Pemkab Malang untuk menyulap lokasi akhir pembuangan sampah ini menjadi pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa), berjalan dan terealisasi.

Rencana merubah TPA menjadi lokasi stasiun PLTSa, sampai saat ini telah masuk pada fase Pra Feasibility Study (FS). Artinya rencana menyulap TPA Randuagung memang benar-benar menjadi salah satu program yang akan digulirkan oleh Pemkab Malang. Selain alokasi anggaran pun telah dikantongi di tahun 2019, untuk pembebasan lahan di lokasi TPA.

Rencana ini pun dibenarkan oleh Renung Rubiyatadji, Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang. Renung mengatakan, rencana mewujudkan TPA menjadi PLTSa memang telah diprogramkan.
"Rencana itu sudah taraf Pra FS atau studi kelayakan. Ada beberapa hal yang jadi fokus sebelum masuk ke arah pembangunan PLTSa," ucap Renung, Selasa (23/07/2019).

Renung melanjutkan, salah satu studi kelayakan itu adalah terkait kebutuhan sampah yang akan mencapai 1.000 ton per hari di TPA Randuagung, sebagai bahan bakunya. Jumlah sampah itu bisa dipenuhi, apabila seluruh sampah di 30 pasar Kabupaten Malang dikumpulkan dan disetor ke TPA Randuagung.

"Sampah dari 30 pasar di Kabupaten Malang setiap harinya menghasilkan sekitar 1.500 ton. Artinya untuk bahan baku bisa dipenuhi sendiri, tapi tentunya butuh analisa anggaran operasional angkutnya," ujar Renung.

Masih menurut Renung tidak menutup kemungkinan nantinya untuk mencukupi kebutuhan sampah bisa juga diambilkan dari Kota Batu. "TPA Randuagung kan lebih dekat dengan kota Batu," imbuhnya.

Baca Juga : Hama Tikus Bikin Buntung, Dinas Pertanian : Alat Bantuan Masih Terkendala Lelang

Selain kebutuhan sampah untuk bahan PLTSa dengan jumlah tersebut, pra studi kelayakan lainnya terkait pengembangan lokasi di TPA Randuagung. TPA yang sempat terbakar di tahun 2018 lalu ini, masih membutuhkan pengembangan lahan.

Renung menyampaikan, saat ini TPA Randuagung masih memerlukan  perluasan lahan. Saat ini luas lahan sekitar 6 hektar ini posisinya terputus-putus. “Jadi tentunya perlu penyatuan lokasi, sehingga TPA menjadi satu kesatuan di lokasi itu," ucapnya.

Terkait kerjasama Pemkab Malang dengan pihak ketiga dalam mewujudkan harapan besar menyulap TPA menjadi PLTSa. Renung mengatakan, dimungkinkan dilakukan dengan sistem Build Operate Transfer (BOT) atau bangun guna serah. Yakni, bentuk pendanaan proyek saat suatu entitas swasta menerima konsesi dari entitas lain (umumnya entitas sektor publik) untuk mendanai, merancang, membangun, dan mengoperasikan suatu fasilitas yang dinyatakan dalam kontrak konsesi. 

Model ini memungkinkan penerima konsesi mendapatkan kembali investasi serta biaya operasi dan pemeliharaan yang dikeluarkan untuk suatu proyek. Secara tradisional, proyek yang didanai dengan skema ini akan diserahkan kepada pemerintah pada akhir masa konsesi.

Sistem ini yang nantinya akan dimungkinkan dipakai Pemkab Malang.Investor atau pihak ketiga yang bekerja sama juga akan mendapatkan subsidi dari pemerintah pusat dan daerah. 

Topik
MalangBerita MalangTempat Pembuangan AkhirDinas Lingkungan HidupBuild Operate Transfer

Berita Lainnya

Berita

Terbaru