Singkong yang akan diolah menjadi Mocaf dan dijadikan bahan pelatihan Disnaker Kabupaten Malang kepada warga Kalipare (Ist)
Singkong yang akan diolah menjadi Mocaf dan dijadikan bahan pelatihan Disnaker Kabupaten Malang kepada warga Kalipare (Ist)

MALANGTIMES - Singkong, memang  terbilang familiar bagi masyarakat pedesaan. Bahkan, keberadaan tanaman singkong yang cukup banyak di wilayah Kabupaten Malang. Hasilnya kerap dijadikan berbagai menu olahan bagi santapan manusia sampai pakan hewan.

Baca Juga : Harga Gula Kembali Meroket, Operasi Pasar Bakal Jadi Solusi Pemerintah Kabupaten Malang

Hal ini karena lahan singkong terbilang cukup luas juga. Dimana menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malang, hampir di 33 kecamatan, warga menanam singkong dengan luas total mencapai 10.286 hektar (ha) di tahun 2017 lalu. Produksi singkong setiap tahun juga terbilang melimpah yaitu mencapai 266.181 ton. 

Kondisi inilah yang kerap membuat singkong yang tidak diolah mengikuti selera pasar saat ini, menjadi komoditas pertanian yang nilai ekonomisnya tidak terlalu tinggi. 

Padahal, dengan potensi cukup besar, singkong di Kabupaten Malang, bisa menjadi ruang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Misalnya, saat singkong diolah menjadi makanan ringan dengan ciri khas kekinian. Atau saat singkong diolah terlebih dahulu menjadi tepung singkong (Modified Cassava Flour (Mocaf)). Sehingga nilai ekonomis singkong akan lebih menjanjikan dan bisa mendongkrak perekonomian masyarakat.

"Singkong bisa diolah berbagai macam produk dengan nilai ekonomis yang baik. Misalnya saat diolah menjadi Mocaf. Tentunya akan lebih memberikan keuntungan lebih bagi masyarakat," ucap Mochamad Yekti Pracoyo, Kepala Bidang (Kabid) Pelatihan dan Produktivitas Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Malang, Selasa (23/07/2019).

Hal inilah yang membuat Disnaker pun mencoba mengaplikasikan teknik pengolahan singkong menjadi Mocaf, melalui pelatihan kepada masyarakat di Desa Sukowilangun, Kecamatan Kalipare.

Sebuah upaya yang menurut Yekti, untuk mendukung program pemerintah kabupaten (Pemkab) Malang, khususnya pengentasan kemiskinan. Melalui potensi pertanian yang terbilang banyak di wilayah-wilayah perdesaan dan sampai saat ini dikonotasikan sebagai produk murah.

"Melalui pelatihan itu, kita ajak warga untuk mengeksplorasi singkong menjadi produk yang bernilai ekonomis. Sehingga warga tidak hanya jual singkong saja, tapi menjual produk olahan singkong berupa Mocaf," ujarnya.

Yekti juga menerangkan tepung mokaf adalah tepung yang terbuat dari singkong yang sudah dikeringkan, diperkaya enzim, dan dihaluskan. Dimana komposisinya dengan 3 kilogram (kg) singkong basah kualitas bagus menghasilkan 0,75 kilogram mocaf. 

Baca Juga : Pertama Kalinya di Malang Ada Studio Apartemen Luas Harga Termurah Hanya di Kalindra

Dengan memberikan keahlian warga mengolah singkong menjadi Mocaf ini, maka warga akan  mendapatkan hasil lebih dari penjualannya dibandingkan hanya menjual singkongnya secara langsung. 

"Keunggulan mocaf  ini di sisi kesehatan bisa menjaga kadar gula darah. Ini tentunya akan banyak masyarakat yang membutuhkan. Khususnya nilai ekonomisnya pun semakin tinggi," ujar Yekti yang menyebutkan, harga jual mocaf per 500 gram bisa mencapai Rp 14 ribu di pasaran.

Disnaker Kabupaten Malang juga menyampaikan, berbagai programnya di tahun ini benar-benar difokuskan dalam upaya pemberdayaan masyarakat terkait pengentasan kemiskinan. Sehingga berbagai pelatihan yang juga menggandeng pihak-pihak terkait terus dikuatkan.

Di Kalipare, dalam pelatihan pengolahan singkong menjadi Mocaf, Disnaker menggandeng Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Malang Raya dan Bank Jatim. Hal ini menurut Yekti sebagai bentuk strategi Disnaker Kabupaten Malang, dalam memastikan adanya keberlanjutan dari berbagai program pelatihan yang digelarnya.

"Keberlanjutan di pelatihan tentunya harus dipastikan berjalan. Ini juga yang diwanti-wanti pak Yoyok (Yoyok Wardoyo, Kepala Disnaker Kabupaten Malang). Sehingga program kami bisa mendukung pengentasan kemiskinan di Kabupaten Malang," ucapnya.

Terpisah, salah satu peserta pelatihan dari Kalipare juga menyampaikan apresiasinya atas pelatihan yang diberikan oleh Disnaker Kabupaten Malang.

"Kita tentu berterimakasih dengan pelatihan ini. Karena ini bisa membuka pikiran dan motivasi saya untuk lebih produktif. Pelatihan singkong menjadi tepung ini pengalaman saya. Ternyata singkong bisa jadi mahal kalau sudah diolah," ucap Sumarlini.

Dirinya juga berharap, setelah pelatihan bisa terus adanya dampingan. "Sehingga kami bisa lebih produktif lagi. Karena ini pengalaman pertama juga. Kalau singkong jadi kripik kan sudah biasa," harapnya.