Apel Donat, Inovasi Puskesmas Mulyorejo untuk Ajak Masyarakat Hidup Bersih dan Sehat

MALANGTIMES -  Memunculkan sifat hidup bersih dan sehat di kalangan masyarakat tidaklah mudah. Apalagi, perilaku masyarakat yang kurang memperhatikan kebiasaan makanan dan cara pengolahan makanan yang benar juga bisa menyebabkan timbulnya penyakit.

Salah satu yang kerap kurang diketahui oleh mereka yakni menimbun minyak jelantah. Kebanyakan masyarakat masih kurang memahami adanya pemakaian minyak goreng sehingga sering digunakan berkali-kali.

Padahal, maksimal penggunaan minyak goreng adala empat kali pemakaian saja. Jika lebih dari itu dan terus-menerus dilakukan, zat yang terkandung dalam minyak akan menyebabkan risiko kolesterol, asam urat, dan yang lebih serius zat karsinogenik bisa menjadi pencetus penyakit kanker. 

Bermula dari kebiasaan masyarakat inilah, Puskesmas Mulyorejo melalui tim kesehatan llngkungan (kesling) berinovasi memaksimalkan limbah minyak jelantah dengan melibatkan 'Apel (Agen Perubahan Lingkungan) Donat (Donasi Jelantah). Ya, program yang baru saja dirilis awal Juli 2019 ini mengarah pada STBM (sanitasi total berbasis masyarakat) lima pilar.

Lima pilar tersebut adalah stop buang air besar sembarangan (BABS), cuci tangan pakai sabun (CTPS), pengelolaan air minum rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga, dan pengelolaan air limbah rumah tangga.

"Dari lima pilar tersebut, salah satu yang kami ambil yakni pilar yang terakhir. Mengenai pengelolaan air limbah rumah tangga. Kami berpikir jelantah itu kan limbah. Rata-rata juga akan dibuang ke saluran air. Kami berpikir, akhirnya kami olah jelantah ini menjadi sabun," ujar Kepala Puskesmas Mulyorejo drg Indra Ratna Sari.

Ia menjelaskan, Apel tersebar sebagai kader kesehatan di lingkup wilayah Puskesmas Mulyorejo. Mulai dari Kelurahan Karang Besuki, Pisang Candi, Bandulan, dan Mulyorejo sendiri. Hasil dari Donasi Jelantah (Donat) ini diolah kemudian dibentuk menjadi sabun yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

"Membiasakan PHBS kepada masyarakat dengan cara yang sederhana, seperti cuci tangan dengan air mengalir pakai sabun. Kebiasaan kecil ini bisa mencegah penyakit lingkungan, seperti diare dan penyakit kulit. Jadi, ada donasi jelantah, juga mengubah kebiasaan masyarakat hidup sehat," imbuh Ratna.

Nantinya, program tersebut diharapkan mampu membuat masyarakat menjadi berdaya. Sehingga mereka memiliki kemandirian dalam memanfaatkan limbah minyak jelantah. Yakni ketika memang sudah tak terpakai,  minyak jelantah tidak harus dibuang ke air yang mengalir karena bisa menyebabkan pencemaran lingkungan.

Sanitarian Puskesmas Mulyorejo Sigit Wahyudi memaparkan, pembuatan sabun limbah jelantah ini cukup mudah. Bahan-bahan yang dibutuhkan juga gampang dicari, seperti minyak jelantah, air, dan NaOH (soda api).

"Siapkan air sebanyak sepertiga dari air mineral gelasan, kemudian campurkan dengan NaOH. Setelah tercampur, tambahkan minyak jelantah sebanyak 1 gelas air mineral. Diaduk kembali kurang lebih 15 menit. Sampai molor ya, baru dimasukkan ke cetakan, kemudian dibiarkan selama 1 x 24 jam agar mengeras," paparnya.

Untuk proses perubahan menjadi sabun, jelantah tersebut membutuhkan waktu kurang lebih 3-4 minggu setelah dilepas dari cetakan di udara terbuka. "Kalau sudah sabun, ya ndak ada jelantah lagi. Dan bisa digunakan untuk mencuci tangan," katanya.

Ke depan, inovasi ini masih akan terus dikembangkan dengan bentuk yang lebih mirip dengan sabun, ditambah pewarna dan juga pewangi. Lebih lanjut, masyarakat nantinya diharapkan bisa berdaya dengan mengolah jelantah rumah tangga miliknya menjadi hal yang bermanfaat.

"Yang paling penting di lingkungan ini tidak dibebani oleh minyak jelantah. Masyarakat bisa berdaya dengan mengolah sendiri dan dimanfaatkan untuk kebutuhannya," pungkas dia.

Top