Patjarmerah siap lanjutkan "sirkus keliling"-nya ke Kota Malang, tepatnya di eks bioskop Kelud.(Ist)
Patjarmerah siap lanjutkan "sirkus keliling"-nya ke Kota Malang, tepatnya di eks bioskop Kelud.(Ist)

MALANGTIMES - Patjarmerah akan kembali menyapa para pecinta buku di Kota Malang. Setelah sukses di Jogjakarta Maret lalu, Festival Kecil Literasi dan Pasar Buku Keliling yang diinisiasi Patjarmerah akan mengeksplorasi salah satu bangunan legenda di Kota Malang sebagai ruang berliterasi, 27 Juli sampai 4 Agustus 2019 mendatang.

Ibarat sirkus keliling, Patjarmerah berputar dari kota ke kota di Indonesia dalam melaksanakan kegiatannya. Lokasi-lokasi kegiatan yang jadi surga bagi para peminat buku ini, pun mirip dengan pertunjukan-pertunjukan sirkus keliling. Mencari lokasi yang tidak eksklusif, memiliki sejarah atau kenangan bagi orang menengok ke masa lalu, serta tentunya tidak akan membuat masyarakat "terintimidasi" mendatanginya.

Pun dalam acara yang akan digelar di Kota Malang. Patjarmerah akan memakai lokasi bangunan tua dan termasuk legenda. Yakni bangunan eks bioskop Kelud di Jalan Kelud, Klojen, Kota Malang.

"Berliterasi tidak melulu harus di tempat yang populer. Literasi juga bisa hidup dan menghidupkan tempat-tempat yang selama ini tidak terpakai secara maksimal. Seperti eks bioskop Kelud ini," kata Windy Ariestanty, salah satu inisiator Patjarmerah, Minggu (21/07/2019).

Pilihan eks bioskop Kelud Malang sebagai lokasi festival buku serta berbagai kegiatan seputar literasi merupakan pilihan Patjarmerah. Selain tidak ingin eksklusif, bisa merangkul banyak pihak, lokasi kegiatan "tidak biasa" yang dipilih juga sebagai bagian dalam menghidupkan memori masa lalu, sejarah, kegembiraan serta juga klangenan bagi sebagian pihak.  

"Banyak cerita lahir dan terjadi di Kelud. Kelud jadi saksi banyak hal. Kami ingin merasakan lagi dan menghidupkan cerita serta kenangan banyak orang yang pernah hidup di lokasi ini" ujar Windy.

Seperti diketahui, bioskop Kelud yang dibangun oleh Noersalam dan Marsam, anggota Brimob pada saat itu, merupakan salah satu bioskop terkenal di Kota Malang. Selain harga tiket yang murah dibandingkan bioskop lainnya yang cukup menjamur tahun 1970-1980-an di Kota Malang, bioskop Kelud atau juga kerap disebut bioskop Dulek juga berbeda dengan lainnya. 

Menggunakan sistem bioskop drive-in yang memungkinkan pengunjung masuk sekaligus dengan kendaraan mereka. Sistem ini jugalah yang membuat atap bioskop ini menjadi terbuka dan lekat dengan sebutan bioskop 'misbar' (gerimis bubar).  Layaknya misbar lainnya, suasana ramai penonton serta penjual makanan dan minuman menjadi salah satu ciri khas bisokop Kelud.  

Suasana pasar malam atau sirkus keliling, yang menawarkan kegembiraan, kebebasan, situasi santai yang membuat banyak orang dari berbagai kalangan senang memadati gedung bioskop Kelud pada masanya.

Pernik-penik inilah yang diambil Patjarmerah yang akan mengadakan kegiatannya di Kota Malang. Bak sirkus keliling, Patjarmerah berharap kegiatannya berupa program literasi, baik penjualan buku sebanyak 8 ribu judul yang dihadirkan serta berdiskon sampai 80 persen.

Jumlah buku yang akan dijual mencapai lebih dari satu juta buku, dari beragam   kategori sampai pada berbagai diskusi, nobar layar tancap dan lainnya bisa kembali menghidupkan geliat literasi masyarakat sekaligus menghidupkan memori masa lalu terkait berbagai lokasi yang pernah menjadi sejarah dan kenangan masyarakat.

"Patjarmerah ibarat sirkus keliling. Bertualang ke tempat-tempat tak terduga di Indonesia untuk bergembira rianlewat literasi. Bioskop Kelud Kota Malang adalah salah satu yang akan disinggahi," ucap Windy yang juga mengajak banyak pelaku literasi di Malang sebagai tuan rumah untuk hadir, menjadi pencerita dalam beragam obrolan serta lokakarya selama acara berlangsung. 

Dari beberapa lansiran terkait rencana kegiatan Pajtarmerah, akan banyak penerbit yang ikut serta dalam acara itu, selain para penulis, konten kreator, pemusik, sastrawan, pegiat komunitas yang datang dari luar Malang. Misalnya  Aan Mansyur, Seno Gumira Ajidarma, Reda Gaudiamo, Alexander Thian, Ria Papermoon, Valiant Budi Yogi, Syahid Muhammad, Puthut EA, Ivan Lanin, Kalis Mardiasih, Bernard Batubara, Aditya Mulya, Siska Nirmala, Marrysa Tunjung Sari, Judith & Genta, dan Restu Utami Dewi.