Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

MALANGTIMES - Mendidihkan Dingin

*dd nana

Berlabuhlah di tubuhku, tuan

Walau hanya ada debur ritmis serupa gerimis

Percayalah, debur ini akan menenangkan debar

Yang kau buang pada setiap senja dan kembali saat malam sempurna mengenakan jubahnya. 

Membunuhmu perlahan, dan menyisakan nafas sepi berbau asam sengit.

Berlabuhlah di tubuhku, tuan, walau tak ada ikrar

Yang kau jangkarkan di tepian hati.

Hari sebentar lagi menuju senja.

....

Aku memilih menjadi malam

Tempat berpulang senja yang diidamkan dalam 

setiap percakapan atau lamunan yang terlalu dalam.

Merengkuhmu dalam diam dan sepi panjang

Dan tentunya kelam.

...

Dua pasang mata bercakap-cakap

Di sebuah kota yang dibekap dingin yang begitu sengit

Meremas-remas raga yang berusaha sembunyi pada lapisan-lapisan busana.

Pemilik mata dengan alis lentik, sesekali memberikan koma

Saat dingin mengunyah kulitnya. Wine di teguknya dengan khidmat. Sedang sepasang mata lainnya, di ujung dekat pintu masuk cafe, serupa puisi.

Tak ingin disekat jeda, mengalir walau seperti rintik gerimis yang pernah aku lukis bertahun lalu. Pada sebuah raga perempuan yang ku sebut cinta.

Dua pasang mata kembali bercakap-cakap

Walau cahaya mulai terlihat redup di ruangan dan panggilan pulang mulai berisik di saku celana.

"Saatnya pulang," 

"Kopiku belum tuntas,"

"Wineku juga belum api. Tapi ini saatnya pulang"

Dua pasang mata yang bercakap-cakap menemui koma

Dan berkata, "izinkan kami besok datang lagi, di sini. Melanjutkan percakapan diam-diam ini,".

Kau duluan yang angkat kaki menuju pintu keluar

Dan menitipkan aroma sepi, tepat saat kau melintasiku begitu pelan.

Mataku menatap pekat kopi di depanku

Hatiku mengais-ais bara, untuk mendidihkan dingin sepi

Yang kau titipkan di dada.

..
Mendidihkan dingin

Pada raga puisi yang sejak malam tak ingin menjadi. 

Panaslah, panaslah, hingga kau punya darah

Untuk kembali mengetuk pintu pemilik rindu ini.

Kalau bukan kau, puisi, siapa lagi yang akan mengantar

Rindu yang dititipkan padaku oleh pemiliknya itu.

.

Satu kecupan panjang

Setelahnya jadikan puisi.

Itu lebih berdarah dan daging bukan, tuan ?

*hanya penikmat kopi lokal