MALANGTIMES - Akses infrastruktur menjadi kendala bagi warga Desa Lebakharjo, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang. Saat jembatan di sungai Ngglidik yang menjadi akses utama ini diterjang luapan air, mereka harus membangun ulang.

Jika tidak dibangun kembali, aktivitas warga akan terhambat. Termasuk anak-anak pun terpaksa mbolos sekolah. Karena itu, setiap kali jembatan diterjang luapan sungai merekapun gotong royong membangunnya kembali. 

“Sebenarnya ada dua jalur yang bisa kita lewati. Tapi di jalur selain jembatan itu lebih curam,” kata warga Dusun Lebaksari, Desa Lebakharjo, Kecamatan Ampelgading, Lasmiati.

Ya warga jika ingin keluar dari desanya itu harus menyeberangi sungai Ngglidik yang sudah dibangun jembatan bambu yang diberi nama sesek. Namun untuk kendaraan berat harus langsung menerjang sungai tersebut.

Lalu mereka juga harus melintasi Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang. Jarak yang ditempuh pun kurang lebih 4 jam bisa sampai di Kecamatan Ampelgading.

Tapi memang warga di sana lebih memilih melintasi jembatan dan Kabupaten Lumajang. Lantaran jalur yang tidak melintasi Kabupaten Lumajang lebih ekstrem. “Kalau jalur yang tidak menempuh Kabupaten Lumajang itu jauh lebih ekstrem. Jadi kami pilih medan yang tidak begitu ekstrem saja,” imbuhnya saat Malangtimes.com bersama BMH Malang melakukan Bakti Sosial. 

Sementara itu, Kasun Dusun Lebaksari, Desa Lebakharjo, Kecamatan Ampelgading, Aji Prayitno menambahkan, untuk bisa sampai di Balai Desa Lebakharjo warga di sana harus menempuh perjalanan selama 1 jam lamanya atau sekitar 14 kilometer. “Jangankan ke luar desa sini, mau ke balai desa saja butuh waktu sejam. Jalan yang kami tempuh pun lebih curam dan ekstrim,” ujar Aji.