Para peserta Kontes Kopi dan Barista 2019 di Kota Malang tengah beradu membuat latte art. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Para peserta Kontes Kopi dan Barista 2019 di Kota Malang tengah beradu membuat latte art. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Belasan barista pemula dari Malang Raya dan berbagai daerah di Indonesia, hari ini (18/7/2019) beradu skill membuat latte art. Gelas-gelas kopi dengan tampilan cantik harus disiapkan dalam waktu singkat. Pasalnya, tiap barista langsung battle alias beradu dengan barista lain untuk menentukan yang lebih jago meracik buih susu di atas pekatnya kopi.

Dalam waktu 10 menit, secara berpasangan, dua barista berlomba membuat kopi mulai dari membuat espresso, steaming susu, streaching, hingga mencampur keduanya hingga membentuk foam lengkap dengan latte art-nya. Untuk babak penyisihan, peserta diminta membuat latte art bentuk line heart atau hati. Para juri pun lantas menentukan salah satu yang masuk babak selanjutnya.

Panitia Pelaksana Kontes Kopi dan Barista 2019 Yohanes Kurnia Wijaya mengatakan, kontes ini berbeda dari kontes barista biasanya. Pasalnya, yang menjadi target peserta adalah para barista pemula. "Kontes ini kami buat memang untuk mencari barista yang belum pro alias masih pemula dari kedai-kedai kopi kecil hingga menengah. Tujuannya agar yang kecil-kecil ini bisa berkembang," tuturnya saat ditemui di halaman luar Stadion Gajayana, Kota Malang.

Menurut Yohanes, hal itu dilakukan untuk memberi kesempatan bagi barista pemula menjajal panggung kontestasi. Selain itu, untuk mencari bakat-bakat baru. Sehingga, dalam kontes ini penilaian hanya dipusatkan pada seni membuat latte. Bukan lagi soal citarasa kopi yang dibuat oleh para barista. "Jangan pro terus lah. Sekali-kali yang pemula dirangkul," ujarnya.

Pria yang akrab disapa Pak Beng itu menyebut, yang menjadi penilaian kontes ini lebih pada kreasi latte yang dibuat meliputi kontras, line, perpaduan warna hingga presisi atau center. "Di babak penyisihan, peserta diminta bikin pattern yang sederhana. Selanjutnya diberi tantangan pola yang lebih rumit dan final battle dengan juri," paparnya. Kontes ini menggunakan kopi lokal dan diikuti oleh barista dari berbagai penjuru daerah di Indonesia.

Salah satu peserta, Indra Setiawan mengaku mempelajari kopi termasuk membuat latte art sejak empat tahun terakhir. Dia mengaku saat ini menguasai beberapa pola art latte. Sehingga, dia optimis mengikuti kontes tersebut. "Kalau kontes pemula seperti ini masih jarang di Malang. Jadi setiap ada event saya itu, terutama untuk mengasah skill," ujar barista kafe The Gade & Gold di Kota Batu.

Peserta lain, Annida Ul Hidayah mengaku baru kali pertama ikut dalam kontes meracik kopi semacam ini. Terang saja, Annida memang baru berkecimpung dalam dunia peracikan kopi selama 5 bulan. "Standarnya untuk membuat satu cangkir kopi dengan latte art hanya 5 hingga menit saja. Jadi, waktu 10 menit yang diberikan sudah sangat cukup," ujarnya.

End of content

No more pages to load