MALANGTIMES - Pola bercocok tanam hidroponik dimulai sejak Francis Bacon menulis buku Sylva Sylvarum tahun 1627. Dari buku tersebut, akhirnya banyak peneliti melakukan uji coba budidaya tanaman tanpa tanah. 

Sampai di tahun 1859-1865, ahli botani Jerman bernama Julius von Sachs dan Wilhelm Knop melakukan pengembangan teknik budidaya tanpa tanah. Teknik itu terus-menerus disempurnakan sampai saat ini. 

Penggunaan nama hidroponik mulai dipakai tahun 1937. Sebelumnya tahun 1929, William Frederick Gericke dari Universitas California di Berkeley menyebutnya dengan istilah aquaculture (atau di Indonesia disebut budidaya perairan). Tapi atas saran WA Setchell dari University of California, nama tersebut akhirnya disebut hidroponik.

Revolusi bercocok tanam tersebut menyebar juga di Kabupaten Malang. Bahkan, kini, hidroponik telah jadi bagian program masal di berbagai balai penyuluhan pertanian (BPP) kecamatan. Tapi, geliat masif hidroponik di Kabupaten Malang dimulai dari Kanigoro, Pagelaran. Tepatnya di sebuah Bengkel Mimpi yang terletak di Dusun Krajan, Kanigoro, Pagelaran.

Di Bengkel Mimpi inilah sosok sederhana bernama Basiri menjadi salah satu penggagas yang memulai dan memasifkan pertanian hidroponik. Berbagai jenis tanaman pun diuji coba melalui pola tanam tanpa tanah. Padi sampai berbagai macam sayuran tumbuh subur di Bengkel Mimpi dan menyebar di berbagai dusun yang ada di Pagelaran.

"Berawal dari keprihatinan melihat kondisi lahan-lahan pertanian yang semakin menyusut. Saya bersama lainnya menguji coba pola hidroponik ini. Ternyata dari mimpi, akhirnya kami berhasil memasifkan pola tanam seperti ini. Bahkan, kini hidroponik semakin dikenal masyarakat," cerita Basiri, pemilik sekaligus leader Bengkel Mimpi, Kamis (18/07/2019).

Basiri pun mencoba memecahkan persoalan regenerasi petani di Kabupaten Malang. Kesan menjadi petani harus berkubang lumpur dan tanah serta memakai busana ala kadarnya diubahnya 180 derajat.

"Melalui hidroponik, petani tidak perlu berkotor-kotor saat bercocok tanam. Ibaratnya kalau mau pakai kemeja dan dasi sekali pun, bertani dengan metode ini bisa dilakukan tanpa takut kotor," ujarnya.

Basiri pun menegaskan, melalui hidroponik, diharapkan regenerasi petani terus berjalan. Sehingga kekhawatiran dirinya secara khusus terkait lahan sawah yang semakin menyusut atau petani tanpa regenerasi bisa pupus  "Dan pertanian Indonesia tetap berjalan semakin baik," imbuhnya.

Mimpi Basiri di Bengkel Mimpi kini semakin terwujud. Melalui kerja keras dan cerdasnya selama ini, berbagai jenis tanaman bisa ditanam dan menghasilkan sesuatu yang juga menakjubkan. Berbagai jenis tanaman, misalnya padi dari berbagai varietas, tumbuh dalam gelas-gelas plastik yang berada di atas pipa paralon. Berbagai sayuran, seperti bawang daun dan lombok,  juga tumbuh laiknya tumbuh di tanah atau persawahan.

Plt Bupati Malang Sanusi (bercaping) saat meninjau pertanian hidroponik di Kanigoro, Pagelaran (Nana

Di sisi penyerapan tenaga kerja pun, pertanian hidroponik cukup mampu mengurangi angka pengangguran. Di Kanigoro, sebagai awal masifnya hidroponik, setiap kelompok tani mampu menampung tenaga kerja sampai 20 orang. Keuntungan bertani hidroponik juga sangat menggiurkan.

"Karena dalam mengembangkan pertanian hidroganik, kita memang pakai pupuk organik baik padat maupun cair. Sehingga nilai jual produknya juga tinggi," ucap Basiri yang juga mengungkapkan keunggulan lainnya adalah hidroponik sangat efektif dan efisien terhadap organisme pengganggu hama (OPH) maupun proses pengairannya.

Keberhasilan Basiri bersama anak asuhnya di Bengkel Mimpi ternyata mampu membuat masyarakat dan lembaga pendidikan tertarik. Tercatat, banyak warga luar daerah sampai  Papua yang datang dan belajar di Kanigoro selama beberapa minggu untuk mengenal dan mendalami pertanian hidroganik. 

"Cukup banyak warga luar daerah bahkan luar provinsi yang datang dan menimba ilmu ke sini. Tentunya kami sangat terbuka menerima mereka untuk bersama membangun dunia pertanian Indonesia," ungkap Basiri.

Kalangan pelajar tidak kalah ramainya yang berkunjung untuk belajar pertanian hidroponik. Misalnya, dari SMKN 1 Malang yang menitipkan para siswanya untuk magang dan belajar hidroganik di Bengkel Mimpi Kanigoro.

Ari Setyowati, guru pelajaran pertanian SMKN 1 Malang, mengaku sengaja memilih menitipkan anak didiknya magang belajar di Kanigoro. “Kami memang tertarik untuk belajar itu (pertanian hidroponik) di Kanigoro. Sehingga kami punya program magang di sana. Kami harapkan memang nantinya para siswa bisa tertarik dan akhirnya nantinya berkecimpung juga di pertanian hidroponik," ucap Ari.

Plt Bupati Malang Sanusi pun mengapresiasi upaya Basiri dalam terus menumbuhkan inovasi pertanian hidroponik. Secara langsung, Sanusi mengatakan dirinya bangga dengan kerja keras Basiri. "Tentu kami sangat mengapresiasinya. Apa yang dilakukan di sini patut dicontoh dan dikembangkan terus untuk kemajuan dunia pertanian Kabupaten Malang," ujarnya.