Konversi Koresin Jadi Avtur, Pertamina Cilacap: Pemenuhan Dalam Negeri Diutamakan

MALANGTIMES - PT Pertamina (Persero) melalui Refinery Unit (RU) IV Cilacap merupakan kilang terbesar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. RU Cilacap ini mengolah minyak bumi dari crude domestik dan crude impor yang total kapasitas minyaknya sekitar 348.000 BSD.

Selain kapasitas minyak itu, berbagai produk pengolahan RU Cilacap terbilang lengkap. Misalnya,  BBM atau gasoline, naphtha, kerosine, avutur, solar LSWR, minyak bakar, LPG dan pelumas dasar. 

Semua itu memosisikan Pertamina RU IV Cilacap sebagai pemasok strategis Pulau Jawa dan nasional. Tercatat, Pertamina RU IV Cilacap  memasok sekitar 34 persen kebutuhan BBM nasional atau 60 persen  kebutuhan BBM di Pulau Jawa.

Karena kondisi itu pula, pengembangan di kilang Pertamina RU IV Cilacap terus dilakukan dalam upaya menguatkan produk yang diolahnya. Salah satunya adalah pengolahan kerosin atau minyak tanah menjadi avtur yang merupakan bahan bakar pesawat terbang.

Mohammad Fadli, dari bagian process engineer Pertamina RU IV Cilacap, menyampaikan bahwa konversi kerosin menjadi avtur terus mengalami peningkatan.  "Liftingnya meningkat, dari 1.200 mega barel menjadi 1.500 mega barel per bulan. Kapasitas produksi avtur ini yang membuat kita bisa juga ekspor," ucap Fadli dalam pertemuan bersama media Jawa Timur di gedung Persatuan Wanita Patra Pertamina RU IV Cilacap, Jawa Tengah, Senin (15/07/2019).

Dengan kapasitas avtur yang disebutkan berkualitas dan terbesar itu, Pertamina RU IV Cilacap menjadikannya produk ekspor. Walaupun, tentunya avtur tetap diprioritaskan untuk kebutuhan dalam negeri. 

"Kebutuhan dalam negeri tetap yang diutamakan. Kelebihan avtur ini yang diekspor," ujar Fadli yang juga memberikan klarifikasi terkait adanya informasi yang terbilang hangat terkait mahalnya avtur bagi pesawat terbang.

Dia mengatakan, harga avtur merupakan kebijakan pemerintah, bukan berasal dari Pertamina. "Harga mengikuti pemerintah, tidak bisa dimainkan sendiri. Begitu pula terkait jumlah avtur yang diekspor, disesuaikan dengan stok dan regulasi pemerintah," ucapnya.

Fadli juga mengatakan, teknis ekspor avtur berbasis tender. Sehingga dirinya bersama petugas Pertamina RU IV Cilacap yang berada di acara media gathering PT Pertamina MOR V belum bisa menjawab pertanyaan terkait negara mana yang akan jadi tujuan ekspor avtur tahun ini.

Dalam kesempatan yang sama, Unit Manager Communication and CSR Pertamina MOR V Rustam Aji  juga menyampaikan bahwa Pertamina RU IV Cilacap memang menjadi yang terbesar kapasitas produksinya dibandingkan 6 kilang lainnya yang dioperasikan Pertamina. Yakni RU II Dumai (paling lama), RU III Plaju, RU IV Cilacap, RU V Balikpapan, RU VI Balongan, dan RU VII Kasim.

"Dari segi distribusi, produk dari kilang RU IV Cilacap jenis BBM disalurkan ke wilayah barat dan juga ke wilayah timur melalui jalur pipa khusus," ucap Aji.

Dia menyebutkan, wilayah barat seperti Tasikmalaya dan Padalarang (Kabupaten Bandung). Kemudian wilayah timur dari Cilacap-Maos Rewulu (Jogjakarta) menuju Teras (Boyolali). "Sedangkan produk non-BBM dan Petrokimia disalurkan dengan menggunakan kapal tanker dan sebagian lagi melalui jalur transportasi darat," imbuh Aji.

Untuk lebih meningkatkan produksi, masih kata Aji, Pertamina juga sedang merencanakan pengembangan kilang di Jawa Timur, yaitu di Tuban. Penambahan kilang di Tuban tersebut sebagai bentuk menguatkan kemandirian BBM. "Target untuk pengembangan kilang di Tuban sekitar tahun 2025-2026 karena untuk kilang ini benar-benar dari akar rumput," ujar dia.

DI RU IV Cilacap yang telah mampu mengonversi kerosin menjadi avtur dan siap ekspor, proyek mewujudkan kemandirian energi nasional pun telah sejak tahun 2016 lalu sampai sekarang memiliki proyek Langit Biru Cilacap (PLBC). Hasilnya  produk  perdana dari unit light naphtha hydrotreating (LNHT) dan isomerization (LN-Isom) sebagai bahan untuk pembuatan bahan bakar minyak (BBM) berkualitas, dalam hal ini Pertamax RON 92.

 

Top