Perkawinan PDIP - PKB Mulai Ramai Diperbincangkan, Mantan Rektor UB dan Dua Pejabat Pemkab jadi Figur Alternatif

Menuju Kursi Pringgitan 2020  3

MALANGTIMES - Saat dua kekuatan beradu dalam kontestasi pemilihan kepala daerah dan sama-sama kuat maka yang akan keluar sebagai pemenang adalah mereka yang memiliki pasangan calon yang juga sama-sama potensial dan kuat dari berbagai sisi. 

Tentu  pasangan calon yang juga memiliki figur calon kuat yang ditempatkan pada lapis kedua, saat kondisi pertarungan menjadi alot.

Hal ini pula yang kerap terjadi dalam kontestasi politik. Dimana posisi orang kedua, atau wakil menjadi penentu keberhasilan meraih kemenangan. Tak terkecuali dengan yang akan dihadapi dalam Pilkada 2020 di Kabupaten Malang.

Sejumlah nama, baik dari dalam maupun luar parpol mulai meramaikan bursa bakal calon (balon) Wakil Bupati Malang tahun 2020. Tercatat, nama-nama yang berasal dari akademisi sampai birokrat, telah ramai diperbincangkan masyarakat. Walau tentunya, parpol dengan suara dan kursi terbanyak akan berhitung cermat saat merangkul orang nomor dua dari berbagai unsur tersebut untuk menjadi calon wakilnya nanti di pemerintahan.

PDI-Perjuangan Kabupaten Malang, melalui Didik Gatot Subroto, Ketua DPC barunya menyampaikan bahwa identitas nasionalis yang melekat pada partainya justru akan membuka ruang yang luas untuk merangkul seluruh elemen di dalam masyarakat. Khususnya, basis religius yang merupakan mayoritas di Kabupaten Malang. 

Hal ini pula yang mengantarkan Jokowi mengalahkan Prabowo dengan menggandeng Ma'ruf Amin yang berasal dari unsur ormas keagamaan yaitu NU.

"Nasionalis PDI Perjuangan juga religius. Tugas kita memang merangkul seluruh elemen yang ada di masyarakat Kabupaten Malang," kata Didik Gatot yang namanya juga ramai jadi pembicaraan sebagai salah satu balon kepala daerah dari PDI-Perjuangan, Rabu (10/07/2019).

Sejumlah nama kuat dari unsur tokoh masyarakat keagamaan Kabupaten Malang pun menjadi relevan bila disandingkan. Misalnya, Rektor Universitas Raden Rahmad (Unira) Kepanjen Hasan Abadi yang pernah menjabat diberbagai lini sayap organisasi NU merupakan salah satu nama yang juga ramai diperbincangkan. Termasuk tentunya Umar Usman, sang Ketua NU Kabupaten Malang yang juga adalah seorang dokter.

Dua tokoh ormas NU tersebut, akan mampu memperkuat PDI-Perjuangan bila jadi tandem menjadi salah satu kader yang akan jadi calon Kepala Daerah. 

Racikan strategi politik yang dilakukan PDIP pada Pilpres 2019 dengan memasangkan Jokowi-Ma'ruf bisa juga diterapkan dalam Pilkada Kabupaten Malang 2020. 

Tugas PDI Perjuangan, tinggal bagaimana memberikan rekom kepada kadernya yang berpotensi maju dengan menggandeng salah satu tokoh dari NU untuk melanjutkan strategi pemenangan dalam Pilkada 2020.

Tentunya, pihak PKB pun telah melakukan perhitungan terkait hal tersebut. Sehingga ramai juga diperbincangkan dua kader yang dimungkinkan maju dalam kontestasi Pilbup itu, dipasangkan dengan kader dari NU. Bahkan, secara ikatan emosional, baik Umar dan Hasan, lebih dekat dengan PKB yang  secara histori merupakan ibu yang melahirkan partai tersebut.

Walau tentunya PKB pun tidak akan menutup mata terhadap kader dari parpol pemilik kursi di tahun 2019 ini seperti Gerindra, PPP, Hanura, Demokrat dan Golkar. Dimana, di pilkada 2020 dimungkinkan akan melakukan koalisi satu sama lainnya.

Walau belum ada pernyataan dari berbagai kalangan masyarakat untuk tandem balon Wabup, PKB akan lebih konfiden apabila memang bisa menggandeng kader NU.

"Kita memiliki banyak kader potensial. Juga memiliki banyak kader NU yang juga bagus. Jadi kita pikir, untuk PKB tidak akan kekurangan kader dalam menghadapi Pilkada 2020. Hubungan dengan NU pun semakin mesra," ujar Ali Ahmad Ketua DPC PKB Kabupaten Malang.

Gus Ali sapaan Ketua PKB Kabupaten Malang, melanjutkan, untuk persoalan balon merupakan kewenangan pengurus pusat. Walaupun, tidak menutup kemungkinan, PKB akan menggandeng kader NU yang juga menjadi incaran parpol lainnya.

Terpisah, Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Jawa Timur (Jatim) melalui Abdul Musawir Yahya, menyatakan juga bahwa, tidak menutup kemungkinan duet bagi dua partai peraih kursi terbanyak ini bisa juga dari kalangan akademisi atau birokrasi.

Abdul menjelaskan, parpol saat ini dituntut untuk menghasilkan sosok yang diharapkan masyarakat. Yakni sosok yang memiliki integritas dan kapasitas konsep dan desain pembangunan daerah.

"Jadi duet ini bisa saja terbalik. Bisa dari kalangan non partai yang diusung menjadi calon kepala daerahnya. Karena masyarakat dari survei kami memang membutuhkan sosok saat ini," ucapnya sambil memberi nama potensial untuk duet bagi PDI-Perjuangan dan PKB.

"Menurut survei kita sebenarnya banyak, tapi yang memiliki kriteria itu  misalnya ada Prof Bisri. Ada juga Tomie Herawanto dan Didik Budi serta Heri Cahyono," pungkas Abdul.

 

Top