Bikin Waswas, Target Perolehan Cukai di Malang Baru Sentuh Angka 33 Persen

MALANGTIMES - Melemahnya industri pengolahan tembakau pada semester I 2019 ini membuat Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Malang waswas. Pasalnya dari target Rp 20,9 triliun, baru tercapai sekitar 33 persen atau Rp 6,9 triliun. 

Kepala Kantor Bea Cukai Malang Rudy Hery Kurniawan mengungkapkan bahwa pihaknya terus berupaya untuk mencapai target yang sudah dipatok oleh pemerintah pusat itu. 

"Kami sampaikan, angka penerimaan sampai bulan Mei 2019 ini sudah mencapai sekitar 33 persen," ujar Rudy.

Target Rp 20,9 triliun yang naik dibandingkan pada 2018 lalu, lanjut Rudy, dinilai sebagai tantangan besar. Mengingat, realisasi pada tahun sebelumnya hanya selisih sekitar Rp 800 miliar dari target yang ditetapkan. Terlebih, kebijakan tarif cukai tidak mengalami kenaikan pada 2019 ini.

"Oleh karenanya, di tahun ini kami berusaha meningkatkan pengawasan guna menekan peredaran barang kena cukai ilegal. Agar pangsa pasar barang kena cukai ilegal dapat digantikan dengan barang kena cukai yang legal. Sehingga, diharapkan hal tersebut mampu mendongkrak penerimaan Bea Cukai Malang," urainya. 

Untuk diketahui, pada 2018 lalu Bea Cukai Malang meraih penerimaan pajak cukai sebesar Rp 20 triliun. Penerimaan tersebut didominasi cukai hasil tembakau, yakni sebesar Rp 19,8 triliun. Kemudian perolehan bea masuk sebesar Rp 30,3 miliar, cukai etil alkohol Rp 41,2 miliar, serta cukai MMEA Rp 199 miliar. 

Sepanjang 2018, penerimaan tertinggi diperoleh pada Desember dengan Rp 3 triliun lebih. Angka itu hampir dua kali lipat dari target bulanan yang telah ditetapkan. Meskipun begitu, peredaran barang kena cukai ilegal masih marak di Malang. 

Peredaran barang ilegal di Malang memang terbilang semakin berkurang. Pada 2016 ada sekitar 12,4 persen. Kemudian di 2018 turun menjadi 7,04 persen. Lalu pada 2020, peredaran barang ilegal ditargetkan turun menjadi 3 persen.

 

Top