Tarik Minat Pertanian Padi Organik, Petani Diajak Pemkot Batu Sekolah Lapang

Jul 08, 2019 17:04
Petani saat melakukan panen di Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)
Petani saat melakukan panen di Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Setelah Pemkot Batu menggemborkan tentang pertanian organik, nyatanya metode pertanian organik ini belum banyak dilirik. Meskipun Pemkot Batu berupaya agar petani mulai menerapakan pertanian organik tidak hanya sayuran tapi juga padi.

Baca Juga : Terkuak, Data Petani Terkena Limbah Greenfields Sejak Tahun Lalu Telah Dilaporkan, Tapi...

Seperti halnya penghasil padi utama di Kota Batu adalah di Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo. Di sana para petani tidak banyak yang menerapkan metode organik.

Luas lahan yang ada di Kecamatan Junrejo sekitar 500 hektar. Lahan padi organik ada sekitar tidak lebih dari 250 hektar.

“Alasannya masih belum bisa meninggalkan penggunaan pestisida yang kurang lebih 50 persen, juga pupuk kimia,” kata Budi Winulyo Koordinator Penyuluh Pertanian, Kecamatan Junrejo.

Pada prinsipnya metode pertanian organik penggunanaan pupuk kimia, pestisida, dan segala macam yang berbau dengan kimia diharamkan. 

Baca Juga : Hama Tikus Bikin Buntung, Dinas Pertanian : Alat Bantuan Masih Terkendala Lelang

Untuk mengoptimalkan gerakan organik tersebut, di Desa Junrejo ini ada sebanyak 11 kelompok tani mulai menanam di bulan Mei hingga Juli mengikuti progam sekolah lapang yang digagas Dinas Pertanian Kota Batu.

“Tujuannya untuk menarik minat petani konvensional beralih ke jenis organik. Karena di Junrejo ini masih banyak konvensional,” imbuhnya.

Sedang hasil panen padi konvensional di Kecamatan Junrejo kurang lebih 12 ton per hektar. Sedangkan padi organik 9,4 ton per hektar. “Untuk saat ini padi organik terbanyak di Desa Pendem, sekitar 210 hektar,” tutup Budi.

Topik
MalangBerita MalangPertanian Organikpenggunaan pestisidapetani konvensional

Berita Lainnya

Berita

Terbaru