Tersaingi Produk India, Produksi Keramik Malang Turun 30 Persen

MALANGTIMES - Industri keramik di daerah merasakan imbas masuknya produk impor dari India. Ketatnya persaingan harga membuat sejumlah produsen rumahan mengalami penurunan produksi. Bahkan hingga mencapai 30 persen. 

Dini, salah satu perajin keramik di Tlogomas, Kota Malang mengaku masuknya produk impor membuat industri skala rumahan kesulitan. "Yang sekarang banyak masuk itu produk India, sebelumnya juga banyak dari China. Mereka kan produk industri besar, jadi secara harga juga lebih murah," ujar Dini. 

"Meski sedang ramai-ramainya pesanan keramik untuk souvenir pernikahan seperti bulan-bulan ini, tetap terasa penurunannya. Yaa, sekitar 30 persen dibanding tahun lalu," tambahnya. 

Dilansir dari bisnis.com, Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) mendesak pemerintah memberlakukan Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP) terhadap seluruh keramik impor termasuk produk dari India.

India merupakan salah satu negara produsen dan eksportir keramik besar di dunia. Namun, dalam beleid Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 119/PMK.010/2018 tentang pengenaan BMTP terhadap impor produk ubin keramik, India dikecualikan dari penerapan BMTP.

Padahal, BMTP tersebut merupakan kebijakan untuk melindungi industri keramik dalam negeri sekaligus menekan angka impor keramik yang mencapai 80,32 juta meter persegi per tahun.

Pada 2019 ini, pertumbuhan industri keramik sepanjang kuartal I cenderung stagnan. Asaki menilai fase di kuartal tersebut memang trennya tiap tahun seperti itu. Namun, di kuartal II-2019 industri ini diprediksi akan mulai bangkit. Estimasi kenaikan produksi secara nasional mencapai 2-3 persen. 

Top