Cebong dan Kampret yang tak pernah mati di medsos (Ist)

Cebong dan Kampret yang tak pernah mati di medsos (Ist)


Pewarta

Dede Nana

Editor

Heryanto


MALANGTIMES - Jagad media sosial (medsos) kembali diramaikan tagar politik dengan aktor yang sama di pemilu 2019. Yakni Prabowo Subianto dan Jokowi yang terus dijadikan bahan pembicaraan dua kubu yang sama militannya.

Tagar #85JutaRakyatTolakJokowi pun menyeruak dan jadi trending topik nomor satu di Twitter.

Dengan cuitan sampai berita ini ditulis mencapai 2.482 cuitan dari warganet yang terbelah dua.

Beberapa akun lainnya memberikan komentar yang terlihat sebel dengan cuitan-cuitan politik yang masih saja berkutat pada persoalan pilpres 2019.

@Rhonii_ menuliskan, "Ini apaan sih..., 1 hari aja tanpa politik. Dasar dasar rakyat indonesia, masih diungkit ungkit," ujarnya terlihat kesal dengan masih ramainya persoalan pilpres yang sudah selesai, Senin (08/07/2019).

Akun @shafiraaaaaaaa_ pun menuliskan ketidakpahamannya terkait masih ramainya persoalan yang sudah diputus oleh Mahkamah Konstitusi (MK) tersebut. 

"Hesteg apalagi ini yampuuuuuuun," tulisnya.

#85JutaRakyatTolakJokowi yang jadi trending topik akan terus bergulir dengan berbagai ajakan memviralkan dari beberapa akun warganet yang masih tidak menerima keputusan MK dan KPU terkait kemenangan Jokowi-Ma'ruf sebagai presiden dan wakil presiden 2019-2024.

Misalnya dari @benz417i yang menuliskan,

"TAGAR kita pagi ini mulai pukul 06:00: #85JutaRakyatTolakJokowi Yang ingin berpartisipasi viralkan TAGAR ini, 

1. Sila RT, like, reply tuit2 yang ada TAGAR #85JutaRakyatTolakJokowi

2. Tambahkan TAGAR #85JutaRakyatTolakJokowi di tuitan masing2." ujarnya.

Tagar ini pula yang kembali memunculkan kampret dan cebong yang mulai ramai dipertentangkan oleh banyak kalangan terkait pemakaiannya kepada masyarakat.

Ma'ruf Amin tandem Jokowi pun meminta agar masyarakat tidak lagi menggunakan istilah cebong dan kampret dalam kehidupan bermasyarakat.

"Itu jangan lagi bunyi lah. Selesai sampai kemarin saja sudah. Kita kubur semua, ada cebong, ada kampret. Kubur saja," ujar Ma'ruf beberapa waktu lalu.

Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada Wawan Masudi juga menyayangkan masih dipakainya identifikasi yang membedakan secara tegas pilihan politik masyarakat. 

"Di negara demokrasi yang lebih dewasa, orang bertarung di level ide, gagasan, kebijakan yang akan diimplementasikan, dan bukan di level identitas serta labelisasi," ujarnya yang juga mengatakan fenomena labelisasi dinilai menjadi salah satu indikator sistem demokrasi di Indonesia masih perlu diperbaiki.

Cebong-Kampret memang kembali menyeruak dalam tagar di atas. Dimana satu sama lain mempertentangkan peristiwa pilpres yang secara konstitusi telah selesai ini.

@KamuuCurang menuliskan, "Dasar kaum c'bonx sedang rebutan daging, prilaku pejabat dan rakyat sama aja. Alhamdulillah, aku termasuk bagian dari #85JutaRakyatTolakJokowi," ujarnya.

Pemakaian kata Cebong pun menyulut warganet lainnya dengan mempergunakan kata Kampret.

"wkwk lucu banget liat para kampret @yg super g*****" tulis @sukampret6.

Akun lainnya yang tidak ingin terjebak pada labelisasi serta sudah pengap dengan cuitan politik menuliskan, "sampai kapan mau membenci pak jokowi? apa ga kasian sama diri sendiri dipenuhi kebencian," ucap @hbsportal.

End of content

No more pages to load