Transisi Epidemiologi, Plt Bupati Malang Kuatkan Germas

MALANGTIMES - Masyarakat Indonesia, tak terkecuali di Kabupaten Malang, sedang mengalami transisi epidemiologi. Yakni, keadaan yang ditandai dengan adanya perubahan dari mortalitas dan morbiditas yang dulunya lebih disebabkan oleh penyakit infeksi (infectious disease) atau penyakit menular (communicable disease). Sekarang lebih sering disebabkan oleh penyakit-penyakit yang sifatnya kronis atau tidak menular.

Hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah penderita sakit hingga kematian akibat penyakit tidak menular (PTM) seperti stroke, jantung, dan diabetes. Serta berdampak pada meningkatnya pembiayaan pelayanan kesehatan yang harus ditanggung oleh masyarakat dan pemerintah.

Tidak hanya itu. Transisi epidemiologi ini juga berpengaruh besar terhadap produktivitas masyarakat, serta menurunnya daya saing negara atau daerah. Eksesnya adalah terjadinya perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat. 

Kondisi inilah yang membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang, kembali menyuarakan gerakan masyarakat hidup sehat (germas) dalam berbagai momentum. Tak terkecuali dalam peringatan zhari Bhayangkara Ke-73 yang dihelat di stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Minggu (07/07/2019).

Plt Bupati Malang Sanusi, secara langsung menyampaikan terkait persoalan adanya transisi epidemiologi tersebut kepada masyarakat yang bertujuan menguatkan germas di Kabupaten Malang. Politisi PKB ini mengatakan, kondisi itu tentunya perlu diantisipasi bersama-sama.

"Sehingga masyarakat Kabupaten Malang menjadi masyarakat yang sadar atas pentingnya kesehatan. Menjadi masyarakat produktif dikarenakan tubuh yang sehat. Germas perlu didorong bersama, tak bisa hanya oleh pemerintahan saja," kata Sanusi, Minggu (07/07/2019).

Strategi memutus masa transisi epidemiologi melalui germas yang diinisiasi di era Bupati Malang Rendra Kresna adalah langkah efektif dan efisien. Masyarakat bisa menguatkan germas dengan cara berolahraga secara rutin.

"Tidak perlu olahraga mahal. Cukup dengan jalan sehat secara rutin, mengonsumsi makanan sehat yang mengandung serat serta dilakukan secara rutin. Ini akan bisa mencegah berbagai penyakit tidak menular yang kini cukup banyak diindap masyarakat," ujar Sanusi.

Seperti diketahui, hampir sekitar 50 persen penduduk di empat desa (Kepanjen, Pakisaji, Pakis, dan Gondanglegi) sebagai wilayah perkotaan di Kabupaten Malang terkena diabetes melitus (gula darah) atau kencing manis,  hipertensi (tekanan darah), kolesterol dan asam urat. 

Penyakit tidak menular yang bisa berakibat pada stroke dan jantung ini, adalah contoh adanya transisi epidemiologi di Kabupaten Malang. Tidak menutup kemungkinan, bahwa berbagai penyakit tidak menular yang eksesnya bisa menghancurkan produktivitas masyarakat  juga terjadi diberbagai wilayah lainnya.

Dengan kondisi inilah, Sanusi mengharapkan seluruh elemen untuk menumbuhkan kesadaran dalam germas di wilayahnya masing-masing. "Kita rencanakan germas dalam memotong transisi epidemiologi ini jadi kegiatan rutin di kecamatan dan desa. Jadi, setiap Jumat bisa dilakukan jalan sehat dan Jumat bersih di kecamatan dan desa-desa," ucapnya.

Selain akan diluncurkannya germas secara berkelanjutan sampai tingkat desa. Pemkab Malang pun telah melakukan kerja sama dengan pihak Universitas Brawijaya Malang, dalam upaya meminimalisasi  berbagai penyakit tidak menular dalam masyarakat.

"Ini sebagai langkah kita agar pembangunan kesehatan di Kabupaten Malang akan semakin maju. Serta tentunya berdampak nyata dalam peningkatan kesadaran dan terwujudnya masyarakat sehat dan produktif," pungkas Sanusi.
 

 

Top