Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

MALANGTIMES - br>*dd nana
1/
Merajang doa sampai pada kulit terdalam
Berkilau setelah rasa sakit tak lagi merengek-rengek
Meminta pelukan. Meminta penyatuan.
Hidup itu melepaskan, katamu, bukan mempertahankan
Segala yang digenggam atau yang tergerai dan dikumpulkan dalam kepalan.
Rajanglah doa sebelum senja. Agar tak lagi ada airmata, ucapmu lagi
Setelahnya, kutemukan apa yang disebut cinta.
2/
Akhirnya, pada doa juga kau hujamkan
Rindu-rindu bengal yang tak bisa kau jinakkan
Karena kita sama-sama tahu, pintu waktu tak lagi bisa
Diketuk.
Sedang kita saling membelakangi dengan tangan terlipat
Di dada dan pikiran yang melayang. Mencari dedahan yang mampu
Menopang rindu dengan jubah kelam yang kita kenakan.
Sebelum akhirnya anak-anak rindu semakin membesar dan rakus
Memamah dedahan dan reranting berusia belia.
Cinta kadang terlalu rakus meminta pertemuan, bukan begitu puan?
Sampai akhirnya tuhan menurunkan sabda-sabdanya
Bacalah dengan tenang dan jadikan dahan.
3/
Tidak ada yang cukup dalam kecupan
Maka aku beri kau kado doa
Tentunya harus kau bayar dengan gelinciran air mata
Dan rasa panas di dada yang meminta dimuntahkan
Anggap saja itu biaya kirim yang harus kau bayar.
Bukalah dan cicipi selapis doa di kado yang ku kirim itu
Agar tidurmu tak lagi murung
Agar rindumu tak berwajah burung.
Percayalah tak ada yang cukup dalam kecupan.
4/
Kau lemparkan doa demi doa
Tepat di mataku. Masih kulihat senyummu yang serupa pagi
Tanpa gerimis dan halimun. Sebelum akhirnya cahaya Beringsut
Dan tak ingin kembali ke mata ini.
Tapi, aku cium aroma bebunga yang kau bisikkan di telingaku
Lewat senja, saat aku teguk secangkir kopi pahit.
Doa telah tumbuh dipekarangan rumahmu, tuan.
*Hanya penikmat kopi lokal