Ilustrasi tanah kavlingan (adakitanews)

Ilustrasi tanah kavlingan (adakitanews)



MALANGTIMES - Memiliki tanah sendiri, menjadi impian semua orang. Terkadang karena terambisi untuk memiliki tanah kavlingan, biasanya masyarakat langsung tergiur manakala terdapat seseorang yang menawarkan kavlingan tanah dengan harga murah. Selain itu, terkadang juga tergiur dengan sistem pembayaran yang ringan dan bisa diangsur beberapa kali.

Saat mendapatkan penawaran itu, masyarakat juga seringkali langsung saja setuju dan melakukan pembayaran tanpa menelusuri kelengkapan surat-surat kepemilikan tanah mauapun status tanah.

Sebelah menstransfer sejumlah uang untuk pembelian tanah kavlingan yang diimpikan, bukannya tanah didapat, malah gigit jari. Kejadian itu seperti halnya menimpa Adinda Indra (29), warga Jalan Kaliuran Barat, Samaan, Klojen, Kota Malang.

Dia tertipu oleh sebuah perusahaan property yang berkantor di kawasan Kedungkandang, dalam transaksi pembelian tanah kavlingan pada Maret 2018 lalu.

Kejadian tersebut bermula, ketika korban berminat membeli tanah kavlingan pada Februari 2018. Kemudian pada Bulan Maret 2018, korban selanjutnay melakuakn pembayaran tanda jadi dengan setoran uang Rp 5 juta.

Selanjutnya, pada Bulan Mei, korban membayar Dp pertama kepada pihak properti sebesar Rp 5 juta. Setelah itu, korban kembali membayar Dp kedua sebesar Rp 5 juta.

Dan selanjutnya, korban membayar sisa pembayaran kavlingan tanah sebanyak empat kali. Setiap bulannya, korban membayar sebesar Rp 2.084.000. Sehingga totalnya dengan DP pertama dan kedua sebesar Rp 23.336.000.

Setelah melakukan pembayaran sekitar 50 persen dari harga tanah kavling yang berkisar Rp 40 jutaan, korban lantas menanyakan kesepakatan awal jika setelah membayar sekitar 50 persen, maka akan dilakukan penanda tanganan akta jual beli.

Namun ketika ditanya hal tersebut, pihak dari kantor Property yang diketahui berinisial BW warga Mergosono, Kedungkandang, Kota Malang, hanya memberikan janji-janji saja. Berjalannya waktu, korban kemudian terus menanyakan janji pihak BW. Namun kembali lagi ia hanya memberikan janji.

Karenanya, korban kemudian melakukan somasi kepada BW. Namun hingga berjalannya waktu dan berganti tahun, BW tak kunjung menunjukkan itikad baik. Dari situ, korban yang telah habis kesabarannya, kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Polres Malang Kota. Korban sendiri mengalami kerugian sebesar Rp 23.336.000.

Kasubbag Humas Polres Malang Kota, Ipda Ni Made Seruni Marhaeni membenarkan kejadian tersebut. Kasusnya sendiri, hingga saat ini masih dalam penyelidikan petugas dengan pemeriksaan saksi.

Namun mengenai kasus itu, pihaknya mengimbau kepada masyarakat, agar lebih berhati-hati lagi dan lebih teliti ketika bertransaksi dengan nominal jumlah uang yang cukup besar. Sebab, kejadian seperti ini, bukan sekali dua kali terjadi.

"Makanya sekali lagi, harus lebih waspada, teliti. Jika melakukan pembelian baik barang, kendaraan ataupun tanah, lakukan kroscek, cek kelengkapan surat-surat dan juga statusnya, jangan sampai setelah membeli ternyata timbul permasalahan. Selain itu, perlu juga melihat track record penjualnya maupun mencari informasi-informasi yang bisa membantu menghindarkan jadi korban penipuan," pungkasnya.

End of content

No more pages to load