MALANGTIMES - Indonesia diprediksi akan diincar bencana dengan frekuensi mencengangkan tahun 2019. Prediksi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), akan terjadi sebanyak 2.500 bencana alam yang didominasi bencana hidrometerologi seperti banjir, longsor dan puting beliung. Persentasenya sekitar 95 persen dari keseluruhan bencana alam yang akan melanda sepanjang 2019.

Kondisi itulah yang menyebabkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun beberapa bulan lalu meminta agar penanganan bencana terus diperkuat di setiap lini. Seluruh elemen didorong untuk terus meningkatkan kewaspadaan serta penguatan mitigasi. 

"Saya juga ingin mengingatkan untuk terus memperkuat daya tahan kita, kesigapan kita dalam menghadapi bencana," ucap Jokowi yang juga mengatakan pemerintah dan DPR telah sepakat meningkatkan anggaran untuk melakukan edukasi dan mitigasi bencana alam, beberapa waktu lalu.

Dorongan besar untuk meningkatkan edukasi dan mitigasi bencana alam inilah yang ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang melalui Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang yang melakukan sosialisasikan perihal standard operational procedure (SOP) penanganan darurat bencana alam yang diikuti oleh perwakilan dari seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), Kodim 0818, dan perwakilan dari Polres Malang.

Hal ini berkaitan juga dengan topografi Kabupaten Malang yang memiliki potensi bencana alam, khususnya bencana hidrometerologi seperti banjir, longsor dan puting beliung yang setiap tahun melanda Bhumi Arema dengan frekuensi yang terbilang tinggi setiap tahun. Tingginya frekuensi bencana alam di Kabupaten Malang yang juga menempatkannya menjadi wilayah yang memiliki potensi bencana terlengkap kedua di Jawa Timur (Jatim) dan nomor 9 secara nasional.

"Dengan kondisi topografi itu serta adanya prediksi BNPB yang menyatakan sepanjang tahun ini bencana alam akan lebih tinggi frekuensinya, yaitu mencapai 2.500. Kita tentunya wajib meningkatkan sinergitas untuk menghadapinya," ujar Kepala BPBD Kabupaten Malang Bambang Istiawan, Jumat (05/07/2019).

Dalam sosialisasi SOP penanganan darurat bencana alam, diharapkan seluruh lintas sektoral di Pemkab Malang, memiliki pemahaman dan mengetahui tata cara yang dilakukan jika terjadi bencana. “Tujuan kegiatan itu memang untuk meningkatkan penyelenggaraan penanggulangan bencana. Baik terkait penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi,” ujar mantan kasatpol PP Kabupaten Malang ini. "Harapan lainnya setelah sosialisasi ini lahir sinergitas antara OPD dalam menghadapi bencana. Hasilnya identifikasi, analisis dan pengambilan kebijakan dan tindakan bisa terintegralkan," imbuh Bambang.

Seperti diketahui, bencana hidrometerologi seperti banjir, longsor dan puting beliung, di Kabupaten Malang dari tahun 2017-2018 tercatat mendominasi dengan jumlah 72 kasus. Longsor, banjir dan angin puting beliung juga mengincar sepanjang tahun 2019 ini. Tercatat berbagai kasus pohon tumbang yang menyebabkan kerugian jiwa dan materi masyarakat, ulah angin kencang dan hujan deras, telah menghiasi berbagai media masa sepanjang awal tahun 2019.

"Banjir, longsor dan angin puting beliung memang yang mendominasi bencana alam di sini. Tidak hanya di wilayah merah, tapi sekarang rata di seluruh wilayah Kabupaten Malang," ucap Bambang yang terus melakukan sinergitas juga dengan lembaga non-pemerintahan dalam menghadapi bencana alam tersebut. "Kita tetap berharap tidak ada bencana alam, tapi tentunya kesiapsiagaan dan sinergitas wajib terus dikuatkan dengan topografi dan demografi Kabupaten Malang seperti ini," pungkasnya.