Kepala KPw BI Malang Azka Subhan (kiri) bersama Ketua Poktan Samadi Prigen Nur Hidayat (kanan) saat panen kopi di lereng Gunung Arjuno. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Kepala KPw BI Malang Azka Subhan (kiri) bersama Ketua Poktan Samadi Prigen Nur Hidayat (kanan) saat panen kopi di lereng Gunung Arjuno. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Malang terus berupaya membantu petani dalam mengembangkan kopi berkualitas. Salah satunya dilakukan terhadap Kelompok Tani (Poktan) Sumber Makmur Abadi (Sumadi) di Desa Jatiarjo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan sejak 2018 silam. Kini, produk kopi lereng Gunung Arjuno itu siap menjajaki pasar ekspor. 

Kepala KPw BI Malang Azka Subhan Aminurridho mengungkapkan bahwa sejak 2018 lalu, pihaknya memberikan serangkaian program pendampingan budi daya hingga penanganan pascapanen dan pemasaran. "Program pengembangan UMKM berorientasi ekspor merupakan salah satu program strategis Bank Indonesia dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," tutur Azka, hari ini (4/7/2019). 

Hal tersebut, lanjutnya, juga sebagai upaya untuk mengurangi defisit transaksi berjalan. Langkah yang ditempuh, yakni dengan melakukan sinergi bersama pemerintah daerah untuk pengembangan UMKM berorientasi ekspor yakni komoditas kopi dan dilakukan di wilayah Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Malang. "Poktan Samadi ini salah satu binaan BI Malang yang telah berhasil menembus pasar ekspor," sebutnya.

Poktan Sumber Makmur Abadi telah dibina Bank Indonesia Malang sejak tahun 2018, dengan anggota kelompok sekitar 34 orang. Perkebunan yang berada di ketinggian 1.000-1.500 Mdpl, dinilai sangat cocok untuk budidaya tanaman kopi. "Luas areal yang ditanami kopi robusta di kisaran 57 hektare, sedangkan yang ditanami kopi arabica adalah sekitar 25 hektar," sebutnya.

Selama menjadi binaan Bank Indonesia, kelompok telah mendapatkan berbagai pelatihan. Mulai dari pelatihan budi daya kopi arabica dan robusta, pelatihan digital marketing dan penjajakan pasar ekspor dalam rangka program rintisan global e-commerce. Termasuk sosialisasi pembiayaan perbankan kepada UMKM. 

Poktan juga diajarkan untuk mengaplikasikan pencatatan keuangan UMKM melalui media elektronika berbasis android yang dikembangkan oleh Bank Indonesia bekerjasama dengan Ikatan Akuntan Indonesia, yaitu Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Keuangan (SI APIK). 

Bank Indonesia juga turut membantu kelompok untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi kopi melalui Program Sosial Bank Indonesia berupa mesin pengolahan kopi pasca panen antara lain sangrai kopi/roaster, alat ukur kadar air biji kopi dan mesin pulper kapasitas 1.000-1.200 kg/jam. 

"Dengan adanya bantuan peralatan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hasil akhir biji kopi yang sesuai dengan permintaan konsumen baik lokal maupun internasional/pasar ekspor, membuat proses kerja menjadi lebih mudah, serta diharapkan pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan para anggota kelompok," tuturnya.

Pengembangan komoditas kopi ini juga tidak lepas dari peran pemerintah daerah, salah satunya oleh Biro Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Poktan Sumber Makmur Abadi kemudian difasilitasi untuk melakukan kerja sama ekspor komoditas kopi ke Perancis melalui Lembaga Rumah Dagang Indonesia (LRDI). 

Pada 2019 ini, rencananya Poktan Samadi akan mengirimkan green bean jenis Arabika dan Robusta dengan total sekitar 22 ton atau senilai Rp 1,8 miliar. "Dengan adanya koordinasi dan sinergi yang baik dari berbagai pihak ini, diharapkan dapat semakin mendorong pengembangan komoditas kopi sebagai salah satu komoditas unggulan ekspor di wilayah Kabupaten Pasuruan," tuturnya. 

Ke depannya, Bank Indonesia akan terus mendorong UMKM kopi binaan untuk terus meningkatkan kualitas produk sehingga dapat diterima pasar global. "Pada akhirnya, juga mampu meningkatkan kinerja ekspor nasional serta berperan dalam upaya mengurangi defisit transaksi berjalan," tegas Azka. 

Ketua Poktan Sumadi Prigen, Nur Hidayat mengaku sangat terbantu dengan adanya program pendampingan tersebut. "Sebelumnya kan di sini hanya asal tanam kopi, dijualnya juga bebas saja ke pasar. Tapi setelah ada pendampingan, pascapanennya diperbaiki, harga kopi yang dijual semakin tinggi. Anggota pun merasakan bedanya," sebutnya.

Sementara itu, Manajer Pemasaran dan Advisory Trade Finance BNI Kanwil Malang Soetjiati menambahkan bahwa pihaknya juga terus berupaya membantu pengembangan UMKM kopi dari segi permodalan. "Tentunya dengan adanya penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) sangat membantu petani dalam hal permodalan," pungkasnya. 

End of content

No more pages to load