Berburu Kopi Cobra di Lereng Gunung Arjuno, Arabika Fruity dari Ketinggian 1.300 Mdpl

MALANGTIMES - Gunung Arjuno yang berlokasi di perbatasan Kota Batu, Kabupaten Malang dan Kabupaten Pasuruan tidak hanya memiliki lansekap yang indah. 

Beragam potensi sumber daya alam juga disimpan gunung berapi kerucut dengan ketinggian 3.339 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu. Salah satunya, kopi. 

Hari ini (4/7/2019) MalangTIMES berkesempatan ikut melihat langsung panen kopi lereng Gunung Arjuno yang dibudidayakan oleh Kelompok Tani (Poktan) Sumber Makmur Abadi (Sumadi) di Desa Jatiarjo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. 

Bersama Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Malang, perjalanan menuju kebun kopi di ketinggian 1.300 mdpl itu cukup menantang.

Medan yang masih relatif alami, mesti ditempuh menggunakan kendaraan dengan penggerak empat roda. 

Dari titik kumpul di Taman Safari Indonesia Prigen, rombongan bergerak menuju kebun kopi dengan durasi perjalanan selama kurang lebih 45 menit. 

Meski melintasi medan berbatu dan badan terguncang di jalur offroad, pemandangan pegunungan yang asri menjadi hiburan yang mengasyikkan. 

Tiba di area perkebunan, hamparan kebun kopi tampak menggoda dengan biji-biji merahnya yang siap petik. 

Di sela-sela kopi, tampak beragam tanaman pendamping seperti pohon jeruk, pisang, nangka, dan pinus. 

Meski pohon-pohon kopi itu baru setinggi 1,5-2 meter, biji-biji merahnya yang ranum tampak menjanjikan. 

Apalagi, saat ini demam kopi masih berlangsung hampir di seluruh kota besar di Indonesia. 

Sesampainya di kebun kopi, MalangTIMES disambut dengan segelas kopi panas. 

Wangi kopi yang segar menguar bersama kepulan uap di tengah suasana pegunungan yang berkabut dan angin sepoi-sepoi. Tanpa gula, cita rasa asam kopi arabika dengan sedikit sensasi fruity atau buah-buahan memanjakan lidah.  

Ketua Poktan Sumadi Prigen, Nur Hidayat mengungkapkan bahwa masyarakat setempat sebenarnya sudah cukup lama menanam kopi.

Tetapi, dulu lebih banyak menanam jenis robusta. Kelompok tersebut, kini mulai merambah jenis arabika yang nilai ekonominya relatif lebih tinggi.

"Total di sini ada sekitar 53 hektare lahan yang digunakan untuk kopi," ujar Dayat, sapaan akrabnya.

Dia merinci, ada empat jenis kopi yang ditanam. Ada dua varietas kopi arabika, yakni kopi cobra dengan area tanam sekitar 8 hektare dan kopi Lini S dengan luasan lahan 12 hektare. 

Sementara itu, juga ada tanaman lama kopi robusta dari varietas tugu sari seluas 7 hektare dan kopi klon BP 42 seluas 10 hektare. 

Satu hektare kopi cobra dapat memproduksi biji basah atau green bean sebanyak 2,5 ton per tahun. 

Sementara untuk varietas Lini S sebanyak 1-1,2 ton per hektare. Untuk kopi robusta varietas tugu sari dan BP 42 memiliki produktivitas lebih tinggi, yakni kisaran 2,5-3 ton per hektare per tahun. 

Menurut Dayat, saat ini petani kopi di Poktan Sumadi lebih menekuni kopi arabika. Meski produktivitasnya tidak sebesar robusta, nilai ekonominya lebih tinggi. 

Saat ini, harga biji kopi basah full wash atau sudah melalui proses pengupasan kulit dan pengeringan mencapai Rp 85 ribu per kilogram untuk jenis arabika. 

Untuk biji kopi yang sudah di-roasting, harganya bisa mencapai Rp 200 ribu per kilogram.

Sementara untuk jenis robusta, harga green bean full wash masih di angka Rp 45-50 ribu per kilogram. Untuk biji yang sudah siap giling atau sudah di-roasting, harganya Rp 70 ribu per kilogram. 

"Bedanya jauh memang harga antara arabika dengan robusta. Apalagi saat ini pasar arabika di dalam negeri dan luar negeri masih sangat terbuka," ujar pria 34 tahun itu. 

Ditaman di lereng Gunung Arjuno, Dayat mengklaim bahwa cita rasa kopi yang dihasilkan memiliki ciri khas tersendiri. 

"Cita rasa kopi cobra tidak terlalu asam dan soft. Di sini ada beberapa tanaman peneduh, seperti pisang, nangka, pinus, dan jeruk, jadi aroma buah muncul. Cenderung pahit, asam, citrus berimbang. Sementara yang Lini S, lebih ke rasa karamel," paparnya. 

Untuk pemasaran, selama ini pihaknya masih banyak memasok pasar lokal. 

Selain di wilayah Jawa Timur, juga ke Jakarta, Bandung dan Jawa Tengah. 

Namun, kini Poktan Sumadi tengah berupaya memasuki pasar ekspor dengan sasaran Perancis.

Top