Ilustrasi, petugas hotel tengah merapikan kamar. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Ilustrasi, petugas hotel tengah merapikan kamar. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Operasional Tol Malang-Pandaan (Mapan) sejak Mei 2019 lalu berimbas pada berubahnya pola perjalanan wisatawan ke wilayah Malang Raya. 

Waktu tempuh Surabaya-Malang yang semakin pendek, membuat banyak pengunjung yang memilih untuk melakukan perjalanan wisata sehari atau one day trip. 

Akibatnya, okupansi hotel-hotel di wilayah tersebut meleset dari ekspektasi.

Ketua Badan Pengurus Cabang (BPC) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Malang Dwi Cahyono mengungkapkan bahwa peningkatan okupansi hotel pasca pembukaan Tol Mapan tidak menunjukkan angka yang signifikan. 

"Dampak selama liburan hari raya hingga libur sekolah setelah ada tol ini ada kenaikan, tetapi di luar ekpektasi," ujarnya. 

"Ekspektasinya, peningkatan okupansi lebih dari 15 persen. Tetapi data yang kami himpun, semua yang menginap naiknya tidak sampai 10 persen," urainya saat ditemui MalangTIMES. 

Adanya kenaikan tingkat keterisian kamar tersebut, berlangsung mulai sekitar H-3 Lebaran. 

Meski demikian, menurut Dwi angka okupansi hotel di wilayah Malang Raya masih cukup baik dalam periode liburan ini.

Selain itu, tak sedikit wisatawan yang sekarang memilih untuk menginap di Surabaya. 

Pasalnya, jarak tempuh Surabaya-Malang yang makin pendek dengan operasional tol membuat wisatawan memilih melakukan perjalanan wisata sehari. 

"Diresmikannya tol kan perjalanan jadi cepat, wisatawan memutuskan one day tour. Bisa pagi berangkat dari hotel di Surabaya dan tidak menginap di sini. Hal itu membuat okupansi tidak terlalu tinggi," paparnya. 

Masalah lain yang juga menjadi perhatian, lanjut Dwi, yakni soal isu kemacetan di Kota Malang. 

"Ini efek komulatif. Dulu, orang kan nunggu tol jadi baru ke Malang. Tapi mulai dulu, banyak diberitakan soal macet. Kalau belum ada tol sudah macet, tol buka dikira lebih macet dan bikin mereka enggan," sebutnya. 

Meski demikian, Dwi mengaku bahwa saat ini pihaknya belum dapat menyebut efek tol terhadap okupansi secara spesifik. 

Pasalnya, saat ini operasional Tol Mapan masih gratis sehingga membuat para pengguna jalan tidak terbebani.

"Nanti setelah tol bayar dan masa liburan habis, baru ketahuan sebetulnya seperti apa efek tol ini. Jadi kami juga masih belum bisa menentukan strategi jangka panjang," pungkasnya.