Tanaman edelweiss jawa yang termasuk kategori flora langka di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Tanaman edelweiss jawa yang termasuk kategori flora langka di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Upaya konservasi masih sangat dibutuhkan untuk melindungi keberadaan flora langka yang hidup di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Pasalnya, saat ini sejumlah flora endemik seperti Edelweiss Jawa, Pinang Jawa, dan Kantong Semar populasinya terus menurun. 

Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan Balai Besar (BB) TNBTS Agung Siswoyo mengungkapkan bahwa salah satu penyebab penurunan populasi itu karena flora-flora tersebut dibabat warga untuk bahan makanan atau dikonsumsi. 

"Saat ini, tim pengendali ekosistem hutan BB TNBTS terus melakukan pendataan sekaligus upaya konservasi tanaman langka di lereng Gunung Bromo dan Gunung Semeru karena populasinya terus menurun," tuturnya.

Agung menyebut, pihaknya melakukan pendataan flora langka di kawasan Penajakan, Pasuruan, Cemorolawang, dan Probolinggo. "Sejumlah flora langka yang didata di antaranya tanaman edelweiss, Pinang Jawa dan Kantong Semar," urainya. 

Dari hasil pemantauan tersebut, populasi Pinang Jawa terpantau mengalami penurunan yang cukup signifikan. Tanaman dengan nama latin Pinanga javana Blume ini termasuk yang paling diburu warga karena umbutnya bisa dikonsumsi. Umbut atau batang muda diambil dengan membabat pohonnya. "Padahal jika umbutnya diambil, tanaman ini akan langsung mati," katanya.

Menurut Agung, warga biasanya membuang daun dan ujung batang, lalu mengambil hati batang mudanya untuk dikonsumsi. Pinang Jawa yang dibabat itu berumur di atas 5 tahun. Batang muda setelah dimasak rasanya seperti rebung. "Untuk itu, kami membuat gerakan konservasi dengan melibatkan warga untuk menjaga kelestarian Pinang Jawa agar tidak punah," tutur dia.

Selain Pinang Jawa, tim pengendali ekosistem juga menemukan flora langka lainnya, yakni bunga bangkai (Amorphophallus titanum) di Ranu Darungan, Dusun Darungan, Desa/Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. "Bunga bangkai itu hanya ditemukan di Ranu Derungan, habitatnya di hutan primer," ujarnya.

Dia menambahkan, sejauh ini BB TNBTS terus melakukan pendataan. Namun kegiatan inventarisasi baru dilakukan tahun ini. "Nantinya kegiatan serupa akan diperluas hingga merambah Jabung, Kabupaten Malang, dan Candipuro, Kabupaten Lumajang," pungkasnya.

End of content

No more pages to load