Frankenstein, makhluk ciptaan Mary Shelley, yang lahir dari kepedihan hidup dan mimpi buruk (Ist)
Frankenstein, makhluk ciptaan Mary Shelley, yang lahir dari kepedihan hidup dan mimpi buruk (Ist)

MALANGTIMES - Karya-karya besar dunia, kerap lahir dari sebuah mimpi. Bukan hanya mimpi baik, tapi kerap sebuah karya yang akhirnya mendunia diusung karena mimpi buruk para penciptanya. Mimpi yang mungkin, sebagian orang akan lebih memilih untuk dilupakannya. 

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

Tapi, tidak dengan perempuan yang lahir 30 Agustus 1797 di Inggris bernama Mary Wollstonecraft Godwin atau lebih dikenal sebagai Mary Shelley.

Kehidupannya yang terbilang buruk, yakni sudah ditinggal ibunya meninggal saat melahirkannya. Sampai dirinya melarikan diri dari rumah saat berusia 16 tahun bersama Percy Shelley, seorang pria beristri dan hidup bersama tanpa ikatan pernikahan. Dan kehidupan kerasnya selama pelarian sampai anaknya yang bayi meninggal dunia. Telah membuat Mary yang di usia 17 tahun, kerap mengalami mimpi-mimpi buruk dalam kehidupannya.

Tidak ingin terpuruk dengan kehidupan tragis dan diikuti mimpi-mimpi buruknya, Mary saat berusia 18 tahun mengunjungi Lord Byron di Danau Jenewa di Swiss. Tepat, saat Gunung Tambora di Sumbawa meletus tahun 1815 dan mengakibatkan perubahan cuaca drastis, tidak hanya di wilayah Nusantara saja, tapi juga di Amerika Utara dan Eropa.

Mary pun terkunci dalam musim dingin vulkanik yang disebabkan debu letusan Gunung Tambora. Eropa mengalami tahun tanpa musim panas.
Lord Byron pun, pemilik rumah yang didatangi Mary, menyarankan agar mereka masing-masing menulis cerita hantu, setiap malam. Untuk mengisi waktu yang beku dan teramat panjang. 

Mery Shelley, ibu dari Frankenstein (Ist)

Di suatu malam, perbincangan beralih ke sifat kehidupan. Mary yang kehidupannya terbilang karut marut, pahit dan setiap tidur diteror mimpi buruk, menyampaikan sebuah harapan. "Andai mayat (orang mati, red) bisa dihidupkan kembali," ujarnya.

Dirinya yang sejak kecil punya minat besar menulis, hal ini diturunkan dari darah kedua orang tuanya yang merupakan penulis terkenal pada zamannya, yaitu William Godwin dan Mary Wollstonecraft. Melanjutkan, bahwa pernyataannya itu didukung dengan berbagai pemikiran dan eksperimen para ilmuwan aliran galvanis.

Sejak melontarkan pernyataan yang dimungkinkan lahir dari berbagai mimpi buruk dan kerinduannya pada sosok ibu yang wafat saat dirinya lahir. Mary pun membawa pernyataannya dalam mimpi-mimpinya yang dia sebut sebagai mimpi yang terjaga.

Tahun 1816, dari pernyataan dan mimpi-mimpi buruknya, itulah lahir sebuah novel fiksi ilmiah pertama di dunia dengan judul Frankenstein. Sebuah novel yang di zamannya ditolak oleh berbagai penerbit, tapi akhirnya menjadi salah satu buku terpopuler sampai saat ini. 

Bahkan, dari buku Mary ini pula berbagai sineas mengadaptasinya dalam karya film yang terus diproduksi.

Baca Juga : KITAB INGATAN 100

Novel kedua fenomenal yang lahir dari rasa sakit dan mimpi buruk penulisnya adalah Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde. Di tulis oleh Robert Louis Stevenson, penulis Skotlandia, novel thriller fantasi ini lahir dari rasa sakit yang dideranya selama hidup serta mimpi buruk dalam tidurnya.
Mimpi buruk Stevenson yang lahir 13 November 1850 ini, bahkan membuatnya sampai harus menjerit-jerit dalam tidurnya, sebelum dibangunkan. 

Kondisi tubuhnya yang sakit-sakitan semakin membuat Stevenson, secara umum tidak akan bisa menghasilkan sebuah karya tulis.

Tapi, dari mimpi buruk itulah, karya fenomenal Jekyll and Mr Hyde lahir, hanya dengan waktu tiga hari, di tahun 1886. Tanpa mesin ketik, novel yang juga diadaptasi dalam film ini, ditulis tangan dengan kondisi sakit. 

Robert Louis Stevenson

Anak tirinya, Lloyd Osbourne, menulis tentang prestasi luar biasa ini: “Saya tidak percaya bahwa pernah ada prestasi sastra seperti penulisan Dr Jekyll. Saya ingat penyakit pertama di dunia meskipun hal itu sudah berlalu, Louis turun ke bawah dalam keadaan demam, membaca hampir setengah buku dan Kemudian, dia pergi lagi dan kembali sibuk menulis. Saya ragu apakah draf pertama cukup hanya memakan waktu selama tiga hari," ungkapnya.

Karya ini secara umum terkait dengan kondisi mental langka yang sering secara umum disebut "kepribadian ganda". 

Dimana dalam orang yang sama setidaknya ada dua kepribadian yang berbeda. Dalam kasus ini, dua kepribadian berbeda muncul dalam diri Dr Jekyll yang tampaknya baik dan jahat, dengan tingkat moralitas yang benar-benar bertolak belakang. 

Dampak novel ini begitu kuat sehingga telah menjadi bagian dari bahasa psikologi, dengan frasa "Jekyll dan Hyde", yang berarti seseorang yang sangat berbeda dalam karakter moral dari satu situasi ke yang berikutnya.