Ironi Generasi Kekinian dalam Ber-Pancasila, Pakar Sebut Sudah Kian Parah

MALANGTIMES - Pakar ilmu sosial dan ilmu politik, Prof. Dr. Unti Ludigdo Ak menyebut ironi kekinian ber-Pancasila semakin parah. 

Karena ada begitu banyak tantangan yang dihadapi generasi penerus dalam mempertahankan Pancasila sebagaimana roh dan semangat yang terkandung di dalamnya.

Pria yang juga merupakan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) itu menilai, sifat kebarat-baratan saat ini begitu kental dengan anak muda. 

Sementara semangat budaya ketimuran dalam hidup bersosial banyak ditinggalkan.

"Ini juga yang terjadi dalam perpolitikan di negeri kita," katanya dalam diskusi yang digelar di Hotel Savana belum lama ini.

Dia menjelaskan, dalam bidang politik, instrumen demokrasi perlu dibenahi lagi sesuai kekuatan Pancasila. 

Tumbuhnya generasi milenial harus diimbangi dengan narasi Pancasila. 

Karena saat ini, dapat disebut anak muda memiliki kecenderungan tak tertarik dengan Pancasila dan nilai yang terkandung di dalamnya.

"Padahal ke depan generasi muda itu yang akan menjadi penerus bangsa," tegasnya.

Lebih jauh dia menyampaikan, nilai Pancasila telah direduksi politik dan kehadiran politik. 

Salah satunya tercermin dalam pola pemilihan yang berlangsung dari tingkat bawah sampai paling atas. 

Di mana saat ini memilih pemimpin tidak dengan cara musyawarah, melainkan dengan sistem pemilihan yang katanya lebih demokratis.

"Ini sebuah tantangan yang membuat Pancasila mati suri. Semua permasalahan yang mestinya diselesaikan dengan musyawarah malah dituntaskan dengan cara yang katanya lebih demokratis. Lantas banggakah kita menjadi bangsa besar yang demokratis tapi nilai Pancasila hanya dijadikan sebatas retorika tanpa ada makna dari Pancasila itu sendiri," urainya lagi.

Bahkan, lanjutnya, kebohongan dan kecurangan dilakukan tanpa ada takut kepada Tuhan dalam helatan demokrasi. 

Dia pun menyebut mayoritas negeri telah kehilangan rasa ketuhanan dan agama hanya sebagai aksesoris gaya hidup. 

Ini juga menjadi sebuah tantangan bangsa Indonesia untuk ber-Pancasila.

"Perilaku dan tindakan kebarat-baratan perlu menjadi perhatian bersama. Dalam kontestasi kita perlu berhati-hati, yang menang harusnya empati pada yang kalah," pungkasnya.

 

Top