MALANGTIMES - Merapuh Pada Waktunya
*dd nana
-Segala yang tumbuh menuju titik rapuh-
Reranting juni menepi. Dalam sunyi, tubuhnya bersiap 
meledakkan diri. Dengan elegan dan tidak membuat gaduh. 
Tubuhnya melayang jatuh, sebelum tanah memeluknya
Tak erat, tak mencengkram serupa rindu.
Tinggal tubuhku yang menggigil menahan dingin
Reranting Juli mulai lahir.

-Luka di atas meja pertemuan-
Luka tersaji di atas meja pertemuan
Dengan bentuk-bentuk menggoda yang hampir menggelincirkan
Ingatan. Begitu kemilau, katamu mendesis dan menatap mataku 
Yang entah kenapa serupa terbakar kerikil yang dijatuhkan ababil.
"Ingatan membunuhmu perlahan. Santaplah hidangan di atas meja itu," ucap sosok yang parasnya kita simpan dalam lonceng waktu di tengah rumah.
Luka tersaji di atas meja pertemuan 
Dan kita hanya bisa meneguk tangisan yang tak terlahirkan.

-Sesekali berpihaklah-
Aku tarik kerah kemeja malam
Dan kubisikkan kata-kata permohonan
Sesekali terangilah luka ini, agar tak pasi parasnya di tinggal cahaya siang.
Mata malam menatapku tenang dan dalam
Selalu tak kutemukan riak-riak di matanya yang menatapku
Yang kutemukan luka-luka yang kupikul sepanjang hela nafas
semakin meletih.
"Buanglah secepatnya sebelum membusuk dan menggerogoti warasmu,".
Aku tarik kerah kemeja malam
Kulingkarkan sepasang tanganku di tubuhnya.
"Menangislah, tapi jangan kau paksa aku termangu luka," bisik malam.

-Masih kau membaca jejak, puan-
Kita percaya, bahwa raga adalah peta
Yang tak bisa hanya dibaca selintasan dan menutupnya gegas
Selalu ada yang tersembunyi, ucapmu yang masih tak melepaskan
Pelukan. 
Kita juga percaya, aksara dan tanda-tanda selalu berjejak
Dan disembunyikan disetiap relung-relung rahasia paling sunyi
Tak ada mata yang bisa membacanya.
Maka aku selalu menentang waktu, saat membaca ragamu
Yang tak pernah tuntas itu. Peta paling rahasia yang tak usai kuendus
Jejaknya disetiap pertemuan.
Selalu ada yang tersembunyi, bisikku yang tak ingin melepasmu pergi.

-Ruang kosong yang dinamakan jarak-
Ada jarak, ruang kosong yang meminta-minta
Pada setiap jiwa yang dibakar cinta.
Ruang kosong yang tak pernah terisi oleh kita
Dengan segala pelukan dan ciuman panjang atau air mata.
Kau ingin menyerah, puan ?

-Menanak sepi-
Kita menanak sepi
Sambil mendendangkan mimpi.
Di luar, angin barat merontokkan dedauan
Sebelum mengetuk pintu rumah kita.
"Bolehkan aku memecahkan sepi dan mimpi tuan itu ?" ucapnya ramah setelah aku bukakan pintu rumah yang digambar anak perempuan kita.


*Hanya penikmat kopi lokal