KITAB INGATAN 62

MALANGTIMES - Aku Lupa Memberi Nama

*dd nana

(1)

Ada yang melempar aduh.

Di kamar kita yang hanya di huni selembar kasur, lemari plastik dengan gambar super hero, serta beberapa buku puisi yang tanggal covernya. Mohon, jangan tanya tentang pakaian kotor yang disematkan di dinding yang dikorek-korek musim itu.

Gesit, serupa tikus, aduh berlari. Serupa kita yang mencoba gesit menghindar kejaran hutang. Membuatmu menjerit ketakutan. Dan aku juga yang sibuk untuk menggusahnya. Tapi aduh punya inginnya sendiri. Seperti aku juga yang menginginkan pagi selayaknya pagi.

Dengan bunyi burung bersahutan, kopi tubruk yang menguarkan aroma pegunungan : rahim sebelum bentuknya ditumbuk dan larut dalam cairan panas dalam gelas. Serta kecupan ringan di pipi perempuan yang menjadi ibu dari anak-anakku. 

Celoteh riang anak-anak yang bersiap berangkat sekolah. Dan dompet yang masih terisi untuk jajan mereka.

Pagi seharusnya begitu, bukan ?

Tapi, pelempar aduh di kamar yang bersetia memeluk kenyataan di mata kita ini, kayaknya tidak pernah faham ingin kita.

Sang aduh terus saja berputar gesit di ruangan. Mungkin, aduh juga frustasi dengan sempitnya ruangan yang tidak bisa membuatnya nyaman mengeksplorasi kegesitannya berlari dan berkelit.

Aku berdoa : semoga kau, aduh, tidak mengeluh. Nasib kerap tidak bisa dipertentangkan dengan mudah.

Kau masih saja menjerit-jerit. Melihat sang aduh yang matanya memohon untuk keluar. Dari ruang sempit yang kita namakan kamar.

Sialnya, kami sama-sama lupa, dimana menyimpan kunci pintu kamar. 

Aduh hampir saja gantung diri karena frustasi dan aku yang lama mengubur keluh, tersengal-sengal menggusahnya. Entah apa yang tiba-tiba menarik mataku, hingga aku bersitumbuk dengan buku-buku puisi yang tak tuntas aku baca tadi malam.

Aduh pun serupa aku. Dirinya terpaku dan matanya menatap buku puisi yang aku tatap. Kami sama-sama terdiam dan berucap sama dengan tanda baca yang berbeda.

"Masuk !".

"Masuk ?".

Kamar kami kemudian sunyi.

Serupa aduh yang kini menyelam dalam buku puisi.

(2)

Kata guruku, aku harus dibacakan cerita-cerita sebelum tidur.

Aku terdiam. Menatap mata cerlangnya yang siang tadi begitu bercahaya saat dirinya pulang sekolah dengan membawa sebuah piala.Kata guruku, cerita-cerita bisa membuatku pintar. Ayah mau kan bercerita nanti ?

Aku masih terdiam menatap matanya. Dan akhirnya aku anggukkan kepala perlahan.

Dalam kepala, aku menyelam mencari-cari cerita yang patut aku dongengkan pada anakku. Air mataku hampir pecah. Tak kutemukan sebuah pun cerita yang patut untuk pengantar tidur anakku.

Aku benar-benar menangis Tuhan.

(3)

Kita sudah berjanji melarung cinta

Sebelum kita berjumpa

Pada lautan yang tak pernah kita tulis namanya.

Agar ingatan tak terus menerus menuliskan puisi asmara

Di dalam kepala, di dalam dada.

Tapi, bandelnya kita, yang menyelipkan sebuah nama dermaga

Dimana kita menanti cinta dengan dada berdegup dan mata yang kita isi dengan bara api yang pernah membakar Ibrahim.

Padahal kita bukan nabi, bukan wali.

Maka, pantaslah sudah nyeri merayakan dirinya di aku.

(4)

Kenapa tak bercinta saja ?

Agar aduh punya tanda baca yang lain

Di buku kulit kita yang penuh aksara.

*Sekedar penikmat kopi lokal
 

 

Top