MALANGTIMES - Di balik kelezatan yang dimiliki mi instan ataupun kesegaran minuman bersoda, serta berbagai macam makanan dan minuman yang terasa nikmat di lidah lainnya, ada kandungan zat tambahan pangan yang berbahaya bagi kesehatan tubuh.

Penggunaan zat tambahan pangan pada minuman secara berlebih dan dalam jangka waktu panjang memiliki resiko mengganggu kesehatan. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau Food and Drug Administration (FDA) bahkan mengakui bahwa penggunaan perisa dan pemanis buatan hanya akan aman apabila dikonsumsi dalam takaran yang sesuai.

Hal tersebut menyebabkan banyak konsumen merasa khawatir dan ingin mencari produk minuman yang lebih menyehatkan.

Berangkat dari hal itu, lima mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya (UB) dengan bimbingan dosen Mochammad Fattah, S.Pi., M.Si mencoba mencari terobosan baru untuk mengatasi persoalan tersebut.

Mereka adalah tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang beranggotakan Warzukni Fahma, Fatih Rukmana Sari, Inggrid Belanurjanah Sulaiman, Galationo Vianus Santo dan Jessica Della Gracia Bangun.

Diskusi dan riset yang dipimpin oleh Warzukni Fahma selaku ketua tim, menghasilkan inovasi yang memanfaatkan daun tanaman mangrove (Acanthus Ilicfoilous) menjadi teh herbal yang sehat.

"Daripada tanaman mangrove ditebang untuk kayu bakar, lebih baik kita jadikan teh saja," ujae Warzukni.

Berdasarkan kajian literatur, ternyata tanaman mangrove (Acanthus Ilicfoilous) banyak mengandung senyawa seperti saponin, polifenol, flavonoid, alkaloid, dan asam amino.

Tanaman ini dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, seperti rematik, radang, flu, hingga sariawan. Bahkan kandungan anti-oksidan tinggi dalam tanaman ini dapat mencegah berkembangnya sel kanker serta menyehatkan organ dalam tubuh terutama hati.

Untuk meningkatkan khasiat dari teh mangrove, ditambahkan rempah-rempah sebagai pengawet alami serta susu kedelai sebagai penyeimbang rasa. Pada akhirnya, tercipta lah produk minuman teh sehat yang mereka beri nama MILEA (Mangrove And Milk Tea).

Galatio menjelaskan, dalam pembuatan MILEA, setelah semua bahan diseduh dan dicampurkan, dilakukan proses pengawetan dengan menggunakan metode "kejut listrik" untuk membunuh mikroba yang mungkin masih bertahan. Hal ini menjadikan MILEA lebih tahan lama dan menyehatkan tanpa adanya zat pengawet kimia tambahan.

"Dibanding produk minuman lainnya, kami lebih memilih menggunakan bahan yang alami daripada yang buatan, sebab tujuan kami adalah untuk memberikan pilihan minuman herbal yang baik bagi kesehatan masyarakat bahkan dapat mengobati penyakit," beber Galatio.

Jessica menambahkan, MILEA telah melakukan pengujian nilai gizi di Laboratorium Gizi UNAIR dan terbukti bahwa MILEA memiliki kandungan anti-oksidan terutama flavonoid yang tinggi.

"MILEA akan hadir dalam 2 bentuk cair siap minum yang dikemas dengan botol berisi 320ml dan bentuk kering siap seduh yang dikemas dengan berat bersih 60 gram," papar Jessica.

Melalui program ini, kelima mahasiswa ini berharap dapat membantu kegiatan konservasi tanaman mangrove di daerah pesisir.

"5 persen dari omset usaha akan di alihkan untuk konservasi mangrove daerah pesisir, sebab hal itu juga menjadi tujuan dari program ini," pungkas Inggrid.