Masuk Musim Kemarau, Jasa Tirta I Mulai Antisipasi Risiko Kekeringan

Jun 21, 2019 16:51
Direktur Utama PJT I Raymond Valiant Ruritan (kiri) saat menemui awak media di Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Direktur Utama PJT I Raymond Valiant Ruritan (kiri) saat menemui awak media di Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Menurunnya curah hujan di wilayah Jawa Timur membuat Perum Jasa Tirta I (PJT I) mulai mengantisipasi kekeringan. Pasalnya, meski baru masuk awal musim kemarau, beberapa daerah aliran Sungai Brantas sudah mulai menunjukkan penurunan debit air. 

Direktur Utama PJT I Raymond Valiant Ruritan mengungkapkan, pihaknya telah menerima sejumlah laporan soal masalah penyediaan air. "Sebenarnya ketersediaan air di awal musim kemarau seperti saat ini masih di dalam pola yang dikendalikan. Namun di beberapa titik di sepanjang sungai, khususnya yang di bagian hilir dari Sungai Brantas sudah muncul laporan persoalan penyediaan air, salah satunya di Mojokerto," kata Raymond, hari ini (21/6/2019).

Baca Juga : Terkuak, Data Petani Terkena Limbah Greenfields Sejak Tahun Lalu Telah Dilaporkan, Tapi...

Memasuki pekan ketiga Juni 2019, hampir seluruh wilayah di Indonesia kini telah memasuki musim kemarau. Selama lima bulan ke depan, rata-rata curah hujan akan lebih rendah dibandingkan bulan lain dalam setahun. Untuk menghadapi musim kemarau, PJT I melakukan upaya distribusi tampungan air yang telah disimpan sepanjang musim hujan secara merata hingga hilir aliran di sepanjang kemarau. 

Raymond mengungkapkan, pengambilan air oleh PDAM mulai tersendat akibat pasokan debit dari hulu mengecil. Ini disebabkan penguapan yang tinggi dan tidak ada hujan yang turun di tengah wilayah Sungai Brantas. 

"Sehingga kita akan melepas air dari Bendungan Sutami dan Wonorejo, agar sejumlah debit air bisa masuk ke Sungai Brantas sampai ke Mojokerto dan Kali Surabaya. Ini untuk mengamankan pasokan air minum yang bahan bakunya diambil dari Sungai Brantas dan Sungai Surabaya," tuturnya.

Terkait debit air, Raymond mengungkapkan bahwa saat ini debit yang mengalir ke Sungai Surabaya sekitar 20 meter kubik per detik. Sedangkan di Sungai Brantas di kisaran 22 sampai 22 meter kubik per detik. 

"Kalau sesuai pola masih berada di ambang pola, tetapi kita akan menambah sekitar 5 sampai 6 meter kubik dari hulu supaya intake PDAM Kota Mojokerto dan Surabaya di Jagir maupun dari sungai pelayaran di Kabupaten Sidoarjo mampu beroperasi," paparnya.

Baca Juga : Hama Tikus Bikin Buntung, Dinas Pertanian : Alat Bantuan Masih Terkendala Lelang

Ia menambahkan, pemakaian air relatif tetap oleh PDAM, tetapi karena musim kemarau yang penguapannya lebih tinggi, sehingga air yang dikirim oleh hulu habis di perjalanan. "Karena itulah kita menambah debit dengan harapan tidak ada gangguan operasi pada PDAM," imbuh Raymond.

Setidaknya untuk memenuhi kebutuhan air selama 5 bulan ke depan hingga Oktober, tersedia 354 juta meter kubik tampungan air di WS Brantas dan 348 juta meter kubik di WS Bengawan Solo.

Untuk diketahui, saat ini ada delapan bendungan besar yang dikelola oleh PJT I. Yakni tujuh bendungan di wilayah Sungai Brantas dan satu bendungan di wilayah Sungai Bengawan Solo. Kedelapan bendungan tersebut adalah Bendungan Sengguruh, Bendungan Sutami, Bendungan Lahor, Bendungan Wlingi, Bendungan Selorejo, Bendungan Wonorejo, Bendungan Bening, dan Bendungan Wonogiri.

Topik
MalangBerita MalangPerum Jasa Tirta IMusim KemarauAntisipasi Risiko KekeringanDirektur Utama PJT IRaymond Valiant Ruritan

Berita Lainnya

Berita

Terbaru