KITAB INGATAN 61

MALANGTIMES - Melarung Aksara Dalam Ingatan

*dd Nana

-Sejenak saja, mari kita mengingat hal-hal pendek dalam kepala-

1/ Yang Paling Gigil

Yang paling gigil adalah rindu 

yang menanti dan sendirian. Menghitung rima waktu yang berdetak dalam selimut dingin yang dihantarkan gerimis.

Lantas bermuara pada secangkir kopi yang dipenuhi kebaikan.

Dan diingkari oleh sebuah janji yang kerap punya kisahnya sendiri.

Menanti dan berusaha hidup dengan menyulam cahaya 

Helai demi helai dari tubuh kunang-kunang yang tersesat dan tak lagi memiliki hasrat.

Yang paling gigil adalah rindu yang tak mati-mati

Ah, betapa keparat dan keras kepalanya dia.

2/ Ciuman Paling Biru

Basah kuyup kita. Tapi kau masih saja tertawa 

dengan bibir yang terlihat membiru.

Betapa sepinya bibirmu waktu itu. Aku pun didera gigil yang panjang.

Hingga kujatuhkan cinta di sana. 

Menderas dalam ciuman, melembabkan dingin ingatan.

Dan kita pun jatuh berulang-ulang di halaman kenangan, saat hujan begitu kelabu.

Dan kita tak bisa saling bertandang. Tak ada lagi ciuman yang meramaikan ingatan tentang rasa sepi dingin yang terus saja berjatuhan. Di bibir kita.

3/ Yang Paling Menakjubkan

Adalah kita yang mampu saling menyelinap dan menghisap

Sampai akhirnya kau terlihat lelah dan berusaha lepas.

Walau jejak tak bisa dipungkiri, menetap dan akan menjadi kenangan

Seburuk apapun cuaca memperlakukannya.

Semoga kau masih mengirimkan doa untukku yang terus membandel

Belajar untuk menyelinap dan menghisap.

4/Selamat Tinggal Yang Tak Terucapkan

Setiap nyeri menyerbu mataku, kueratkan jemari ini

Segemetar apapun masih kupunguti setiap helai rambutmu yang berjatuhan.

Mungkin, masih tersisa aroma yang membuatku tetap mencintaimu

Walau tak lagi ada kecupan dan ucapan selamat tinggal yang kau kirimkan.

Atau aku sampaikan.

5/ Kutinggalkan Kota-Kota

Ketika tak ada lagi jeda, cinta serupa mantra dari mulutku 

Yang tak henti menujumu. Yang sia-sia tapi tak mampu aku tolak.

Mungkin, sampai saat aku menemukan sebuah kota yang serupa

Dengan sepi. Atau saat aku mahir melupakan kesedihan

Yang kerap datang tanpa diundang. Sepertimu.

6/ Aku Pesan Kopi Terpahit

Lalu aku mulai mencintaimu

Dengan seluruh ingatan yang dibasahi puisi 

Yang lahir dari segala lekuk dan lenguhmu.

Sampai aku mulai memesan kopi terpahit di sebuah kedai

Yang terlihat meringkuk dengan gigil paling menyedihkan

Sepertiku yang sedang giat belajar untuk melupakan.

Lalu aku semakin mencintaimu dan terus berusaha melupakanmu

Dengan memesan secangkir kopi terpahit di kedai serupa sepiku.

7/Aku Pesan Ciuman 

Langit menjatuhkan hujan

Dan aku memesan sebuah ciuman kepada tuhan

Yang mengantarkan sebuah bibir paling menawan

Yang paham, selepas hujan bibir mencari jalan untuk saling menghangatkan.

-tapi tak ada yang abadi

Walau sang penyair menuliskan kitalah yang abadi dan waktu lah yang fana.

-maka jangan kau pesan sebuah ciuman kepada tuhan sebelum kau taklukan waktu dan menjadi abadi.

Percayalah, itu nyeri paling sunyi.

-akhirnya, pada puisi persuaan dan perpisahan dicatat. Sebelum akhirnya dimengerti dan menjadi ingatan-

*hanya Penikmat kopi lokal

Top