Proses persiapan RSUD Kanjuruhan mendirikan RS Pendidikan. Dewan Pengawas RS hadir memberikan sosialisasi terkait hal itu. (Nana)

Proses persiapan RSUD Kanjuruhan mendirikan RS Pendidikan. Dewan Pengawas RS hadir memberikan sosialisasi terkait hal itu. (Nana)



MALANGTIMES - Loncatan untuk mewujudkan Kanjuruhan Reborn 2020 oleh direktur RSUD Kanjuruhan beserta seluruh karyawan terus dikawal walaupun dalam situasi adanya pergantian direktur yang sempat melahirkan petisi dari ratusan karyawan beberapa hari lalu.

Salah satunya adalah pendirian rumah sakit (RS) pendidikan di RSUD Kanjuruhan, Kepanjen. Rencana pendirian RS pendidikan telah terbilang lama digodok dan dipersiapkan berbagai persyaratannya. Misalnya, akreditasi paripurna di bawah Marhendrajaya sebagai direktur RSUD Kanjuruhan yang posisinya diganti oleh Abdurachman.

Selain itu, berbagai persiapan sarana-prasarana pendukung berdirinya RS pendidikan telah dipersiapkan dan telah tertata sedemikian rupa walau masih belum terselesaikan secara seratus persen  tahun 2019 ini dikarenakan target penyediaan sarana prasarana (sarpras) pendukung sampai tahun 2020 datang.

Prasyarat lain sebuah rumah sakit bisa mendirikan dan memiliki RS pendidikan adalah adanya kuantitas dokter yang bekerja di sana serta kurikulum. "Tiga syarat itu, di sini sudah siap semua. Untuk jumlah dokter ada 40 orang di sini. Ini lebih dari cukup. Pun sarpras pendukung sebagai bagian dari syarat berdirinya RS pendidikan," kata Prof Dr Djanggan Sargowo dari Dewan Pengawas Rumah Sakit Pendidikan, Rabu (12/06/2019) kepada MalangTIMES.

Djanggan pun menegaskan, dengan kondisi tersebut, RSUD Kanjuruhan  sudah siap untuk mengajukan kepada Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk pendirian RS pendidikan.
"Sudah siap di sini untuk itu. Apalagi ditunjang dengan potensi kasus yang banyak dan bervarian di sini. Kasus itu bisa jadi persyaratan untuk jadi ajang pendidikan. Hal lain adalah dukungan bupati yang tinggi juga atas terwujudnya RS pendidikan," urainya.

Seperti diketahui, RS pendidikan bisa terbilang langka di Indonesia. Walaupun di Malang ada perguruan tinggi memiliki rumah sakit, tapi tidak dipergunakan sebagai RS pendidikan. 

Disinggung pentingnya RS pendidikan, Djanggan menyampaikan bahwa sampai saat ini lulusan dokter di Indonesia sebanyak 220 ribu orang dari 85 fakultas kedokteran yang ada di Indonesia. Dengan total jumlah dokter tersebut, dibanding dengan jumlah penduduk Indonesia, sekitar 256 juta jiwa, maka rasio pelayanan kesehatannya adalah 1:5.000. 

"Padahal ini tidak boleh terjadi di dunia kedokteran. Idealnya adalah satu dokter berbanding seribu. Atau satu dokter berbanding 500 orang. Karena itu, diperlukan percepatan pencetakan dokter. Salah satunya melalui RS pendidikan ini," terang Djanggan. 

Rasio pelayanan dokter terhadap pasien di Indonesia kalah jauh dengan Singapura maupun Malaysia yang telah menerapkan rasio 1:1.000.
Kondisi inilah yang membuat pemerintah memberikan kesempatan untuk memakai lahan rumah sakit milik negara untuk dipakai sebagai pusat pendidikan tenaga kesehatan di berbagai jurusan. Sebab, lanjut Djanggan, tidak mungkin sebuah fakultas kedokteran baru, misalnya, langsung memiliki rumah sakit sendiri.

"Jadi, ini pemerintah memberikan kesempatan kepada anak bangsa untuk sekolah melalui RS pendidikan. Dan sekali lagi RSUD Kanjuruhan sudah siap untuk itu," tegas guru besar kedokteran Universitas Brawijaya Malang ini.

Potensi RS pendidikan di Kabupaten Malang pun, sangatlah besar. Apalagi, posisi Malang merupakan wilayah yang diperhitungkan di tingkat nasional. Malang merupakan balancing nasional dalam politik, ekonomi, olahraga dan lainnya. Selain itu, populasi masyarakatnya tertinggi kedua setelah Bandung, Jawa Barat. 

"Jadi, saya tegaskan sangat besar potensinya. Begitu pun RSUD Kanjuruhan yang bersiap mendirikan RS Pendidikan punya kesempatan besar," ujar Djanggan.

Marhendrajaya, direktur RSUD Kanjuruhan, pun mengatakan hal yang sama. Pihaknya berkomitmen mengawal berdirinya  RS pendidikan dengan target tahun 2020 bisa tersertifikasi. 

"Kami bersama-sama ngebut untuk mewujudkan ini. Harapannya 2020 sudah bisa tersertifikasi. Sedangkan visitasi akan dilakukan Juli 2019 datang," ujarnya.

Nantinya, lanjut Marhendrajaya, bila RS pendidikan telah berdiri, maka warga bisa menempuh pendidikan kesehatan, baik jurusan dokter umum dan spesialis, perawat,bidan dan semua unsur tenaga kesehatan bisa dilakukan di RSUD Kanjuruhan.  "Ini tentunya akan membuat Kabupaten Malang menjadi lebih baik di sektor kesehatan sekaligus menjadi bagian prestasi pemerintah daerah," pungkasnya.

End of content

No more pages to load