MALANGTIMES - Memotong Ketupat Buatan Emak

*dd nana

"Pada ingatan, percayalah, segala persuaan dan kehilangan bermuara."

1/

Waktu, katanya, dijalin dengan rumus sederhana. Oleh jemari yang mahir mengikat temali dengan sempurna. Tak ada yang melebar satu sama lain. Presisi, serasi sedemikian rupa.

Jemari kita yang memotongnya. Tepat di bagian tengah untuk menguliti kulit yang membungkus daging. Memotongnya ulang sebelum dihidangkan.

Serupa ketupat buatan emak. Yang dididihkan dalam api yang riang melenyapkan kayu bakar dan memutuskan air yang menggelegak dalam tungku. Berjam-jam sampai kita berpeluh.

"Yang menghilang akan pulang pada ingatan."

Sebagian tandas dalam perut. Menjadi daging dan kotoran yang kita buang. Berubah wujud dan warna. Waktu bekerja dengan sempurna agar kita ingat masih manusia.

Serupa ketupat buatan Emak yang akan terus terhidang di meja makan setiap kita merayakan lebaran.

Dimana dengan cara yang sama, kita juga memotongnya sebelum dihidangkan di meja makan. Mungkin, hanya ingatan yang kerap mengingkarinya dengan sedu sedan.

Mencoba melupakan segala peluh di kening yang terkena tempias api. Dan mencoba untuk tidak kembali pada masa lalu yang terlalu riang itu.

Tapi, yang menghilang akan pulang pada ingatan. 

Aku pun menangis dalam diam yang panjang.

"Ingatan yang membuatmu masih manusia, bukan?".

2/

Sesekali tengoklah aku. Walau mungkin, tak ada lagi paras rindu seperti dulu, di hatimu. Tapi, ini lebaran kan, puan?

3/

Umur punya hitungannya sendiri. Seperti lipatan janur kelapa yang membentuk segiempat ketupat. Sederhana, tapi membuatku menggigil, saat takbir lebaran berkembang. Dan ingatan tetiba dirasuki paras dari sebuah tepi.

Ada letusan dalam kepala. Aku ditarik pada nuansa ketakutan yang dalam. Menggigil begitu dalam.

Aku janur kelapa yang masih belia, ternyata.

*sekedar penikmat kopi lokal