MALANGTIMES - Pesatnya pertumbuhan bisnis kuliner di Kota Malang dalam kurun 2-3 tahun terakhir bak jamur di musim hujan. Deretan kafe dan restoran berlomba menarik konsumen di hampir seluruh jalan-jalan utama kota. Sayangnya, pertumbuhan yang masif itu masih belum diimbangi dengan faktor sustainability atau keberlanjutan usaha.

Kelemahan di sisi sustainable bisnis tersebut tampak pada hasil penelitian Baseline Economic Survei (BLS) yang dilakukan Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Malang. Kepala KPw BI Malang Azka Subhan Aminurridho mengungkapkan bahwa masih banyak pelaku usaha yang ingin sukses secara instan. "Kuliner misalnya, banyak sekali bermunculan tetapi cepat sekali siklusnya," ujar Azka kepada malangtimes.com.

"Ada yang setengah tahun saja eksis, lalu mati atau ganti konsep. Temuan awal ini butuh penelitian yang lebih dalam dari para akademisi, apa yang menyebabkan kuliner di Malang muncul secara instan tetapi daya tahannya kurang," papar Azka malangtimes.com.

Pihaknya juga merekomendasikan agar pemerintah daerah memberikan pendampingan usaha agar mindset sukses secara instan tidak tertanam di pelaku usaha pemula.

Azka menguraikan, dalam penelitian yang digarap akhir 2018 itu tampak minimnya semangat juang pelaku usaha pemula. "Pelaku bisnis kuliner itu yang dianggap sukseskan yang punya sustainable yang panjang. Nah, kesiapan dari sisi itu yang belum ada di para pemula. Usaha baru gagal, tutup, cari yang lain. Pola ini banyak ditemukan," urainya. 

Menurutnya, agar pola itu tidak terus muncul, perlu adanya perbaikan mindset pelaku bisnis kuliner. Tidak hanya asal mengikuti tren, tetapi justru memunculkan tren. 

Dia mencontohkan salah satu usaha kuliner sukses yang berkembang menjadi franchise, yakni Ayam Nelongso. "Misalnya Ayam Nelongso itu, proses jatuh bangunnya sangat panjang. Sekarang cabangnya di mana-mana. Tapi banyak pengekor yang justru tidak bertahan, karena nggak siap jatuh bangunnya. Ini juga ditemukan di penelitian," sebutnya.

Selama ini, lanjutnya, BI sudah lama mengembangkan penelitian Baseline Economic Survei (BLS) itu untuk mengidentifikasi berbagai peluang investasi di daerah. Termasuk penelitian komoditas/produk/jenis usaha (KPJU) unggulan di masing-masing daerah di wilayah KPw BI Malang. Pasalnya, meski memiliki akar sejarah yang sama, wilayah di Malang Raya tumbuh dengan komoditas unggulan yang berbeda-beda. 

Azka menekankan pentingnya political will atau keberpihakan pemerintah daerah (pemda) dan dukungan stakeholder terkait untuk memaksimalkan potensi komoditas-komoditas itu. "Jadi hasil penelitian ini kami sampaikan ke pemerintah daerah di wilayah KPBI Malang, termasuk rekomendasi strategis yang bisa dilakukan," pungkasnya.