MALANGTIMES - Sektor pertanian dan perkebunan, sepintas mungkin tidak menjanjikan di mata sebagian orang. Persepsi ini pula yang menyebabkan lahan pertanian dan perkebunan beralih fungsi menjadi kawasan industri dan perumahan yang secara fisik terlihat lebih menjanjikan.

Tak terkecuali di Kabupaten Malang yang sempat dibuat 'goncang' dengan berbagai kasus alih fungsi lahan pertanian. 

Untungnya, kesadaran jangka panjang sekaligus amanah regulasi yang ada masih tetap dipegang para pemimpin daerah di bumi Arema ini. Dari berbagai perlindungan melalui kebijakan daerah sampai dengan peran aktif melindungi para petani Kabupaten Malang dengan berbagai kemudahan dan pelayanan.

Hal ini pula yang membuat hasil sektor pertanian dan perkebunan di Kabupaten Malang tetap terjaga. Bertahan menjadi lumbung pangan di mata Provinsi Jawa Timur (Jatim) dan nasional, serta menjadi primadona bagi masyarakat Asian.

Tak salah kalau Wakil Bupati (Wabup) Malang Sanusi melanjutkan kiprah kepedulian Rendra Kresna saat menjabat sebagai Bupati Malang. Melindungi dan mendorong terus para petani Kabupaten Malang untuk tetap eksis di sektor pertanian dan perkebunan.
"Komitmen melindungi lahan pertanian dan petani adalah salah satu program tahunan Kabupaten Malang. Ini baik dan tentunya penting bagi kedaulatan dan ketahanan pangan. Selain mampu menjadi ruang meningkatkan taraf kehidupan petani juga seperti program strategis kita," kata Wabup Malang Sanusi kepada malangtimes.com.

Dengan kesuburan tanah di Kabupaten Malang, berbagai hasil pertanian terbilang melimpah ruah. Hasil produknya juga diakui di tingkat nasional dan Asia. Sebut saja hasil perkebunan durian di beberapa wilayah Kabupaten Malang. Misalnya, di Kecamatan Ngantang, tepatnya di Desa Sumberagung, yang dikenal sebagai surganya para pecinta raja buah-buahan. Yaitu kebun durian yang disulap menjadi salah satu destinasi wisata agro. Keberadaannya bahkan telah memincut hati mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Atau di beberapa wilayah lainnya, seperti Wagir, Tirtoyudo, Tajinan, serta beberapa wilayah lainnya. 

Durian dari Kabupaten Malang ternyata selain mampu membuat para pencinta raja buah-buahan dalam negeri terpesona. Juga telah mendapat tempat di hati orang Asia di lain negara. Buktinya, buah berkulit tebal dan berduri ini mampu merambah pasar ekspor ke Vietnam.

Sanusi pun menyampaikan, bahwa salah satu produk pertanian di Kabupaten Malang, durian, walau bukan produk unggulan tapi mampu membuat taraf kehidupan petani sejahtera. "Walaupun, durian tidak bisa diklasifikasikan sebagai produk unggulan serupa jenis buah lainnya, tapi telah menjadi produk yang diminati pasar luar negeri. Ini yang membuat kita terus dorong petani untuk lebih mengembangkan sektor pertanian. Kita mendukung penuh untuk itu," tegas Sanusi.

Terminologi produk unggulan dalam perkebunan indikatornya adalah lahan yang luas, varietas tidak beragam dan menjadi sumber penghasilan pokok petani. Dengan pengertian itu durian memang tidak menjadi produk unggulan, tapi telah membuat nama Kabupaten Malang harum sampai Asia.

Harumnya durian Kabupaten Malang disampaikan juga oleh M Jaeni petugas  Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) di Kantor Karantina Pertanian Surabaya. Sebuah unit kerja yang bertugas, salah satunya melakukan pengecekan fisik durian sebelum diekspor. Untuk memastikan produk durian itu memenuhi standar dan kualitas untuk berjajar dengan buah ekspor lainnya. "Untuk durian ekspor Asia seperti Vietnam, asli hasil dari petani di Kabupaten Malang dan Lumajang," ujarnya seperti dilansir detik.com.

Tentunya, dengan produk berlabel ekspor, harga durian pun menjadi cukup menggiurkan. Harganya mencapai 2,08 USD atau kurang lebih Rp 30 ribu per kilogram. 

Jadi, tepatlah berbagai kebijakan Pemkab Malang selama ini untuk terus menjaga dan melindungi lahan-lahan produktif pertanian dan perkebunan. Selain untuk mewujudkan kedaulatan dan ketahanan pangan juga ruang yang mampu membumikan tiga program strategis Kabupaten Malang. Pengentasan kemiskinan melalui daya saing produk pertanian di negara Asia, optimalisasi pariwisata lewat pembauran fungsi lahan dan daya dukung lingkungan hidup. "Karenanya saya dorong petani terus berinovasi dan dinas terkait untuk terus mengawal dan mempermudah berbagai kebutuhan para petani," pungkas Sanusi.