Empat pilar Masjid Bungkuk di Singosari yang masih dipertahankan dan berdiri kokoh sampai sekarang (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).
Empat pilar Masjid Bungkuk di Singosari yang masih dipertahankan dan berdiri kokoh sampai sekarang (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Masjid Bungkuk, Singosari,  sebagai salah satu masjid tertua di Malang memang sudah dikenal di berbagai penjuru Indonesia. Selain menyimpan banyak cerita dan perjuangan para penyebar ajaran Islam, masjid yang tak jauh dari kompleks Candi Singosari itu memiliki bangunan yang unik.

Bahkan, empat pilar yang menjadi fondasi awal bangunan Masjid Bungkuk pun masih berdiri kokoh sampai sekarang. Konon, di masjid tersebut juga diyakini terdapat sebuah lubang yang digunakan oleh Kiai Thohir, menantu Kiai Hammimuddin, untuk melihat Kakbah di Makkah. 

Kiai Hammimuddin sendiri merupakan salah satu tokoh berpengaruh dalam penyebaran ajaran Islam di Malang Raya, utamanya Malang Utara. Dia adalah mantan laskar Pangeran Diponegoro yang kemudian berjuang menyebarkan ajaran Islam di Malang Raya dan sekitarnya. 

Masjid Bungkuk ini sendiri memang menjadi peninggalan sejarah sekaligus jejak penyebaran ajaran Islam pertama di Malang. Dimulai saat eks laskar Pangeran Diponegoro, yaitu Kiai Hammimuddin, melarikan diri dari peperangan dan menuju Singosari. 

Berdasarkan cerita H Moensif yang juga merupakan keturunan keempat alias cicit Kiai Hammimuddin, masjid tersebut dibangun di tengah-tengah pelarian Hammimuddin. Sebab, sudah menjadi amanah bagi laskar Pangeran Diponegoro bahwa ajaran Islam harus tetap disampaikan di mana pun berada. 

Saat pertama membangun masjid atau tempat beribadah, masjid itu tak berbentuk permanen. Hingga akhirnya, Hammimuddin berhasil membuat bangunan permanen dengan mendirikan empat pilar. Sampai sekarang, empat pilar itu pun masih tertancap sesuai bentuknya meskipun masjid sudah dipugar beberapa kali. "Terakhir masjid dipugar pada tahun 2008," kata cucu Kiai Thohir, H Moensif Nachrowi.

Saat menyebarkan Islam di bekas wilayah Kerajaan Singosari itu, ajaran yang disampaikan bukan murni ajaran dari Arab. Melainkan memang ajaran yang sudah disesuaikan dengan budaya di Jawa.

Saat itu, ajaran Islam masih belum banyak diketahui lantaran masyarakat sekitar daerah tersebut masih kental dengan ajaran Hindu dan Buddha. Sehingga, saat ada beberapa santri yang melaksanakan salat, masyarakat sekitar menyebutnya sebagai daerah "bungkuk".

"Kata mbah saya, dulu itu masyarakat menyebut daerah Bungkuk karena mereka belum mengenal istilah rukuk dan sujud. Sehingga, rukuk dan sujud mereka katakan sebagai membungkuk dan masjid pun akhirnya disebut Masjid Bungkuk. Begitu juga pondok pesantrennya," ungkap Moensif lagi.

Saat dipugar pada 2008, terdapat beberapa situs bersejarah yang ditemukan. Di antaranya adalah bebatuan berukuran besar yang diyakini sebagai lintasan pagar pintu masuk ke Kerajaan Singosari. 

"Dan temuan tersebut sudah diselamatkan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan Mojokerto," katanya sembari menyebut jika bebatuan sisa yang tak bisa siselamatkan kembali dikubur saat pembuatan fondasi masjid.

Sampai sekarang, masjid tua yang sudah rampung direnovasi tersebut masih digunakan untuk beribadah. Juga menjadi destinasi wisata religi karena di belakang masjid juga terdapat makam Kiai Hammimuddin beserta keturunannya.