Baznas Kota Malang Bakal Canangkan Kawasan Bebas Mustahiq

Jun 05, 2019 09:02
Foto (detik)
Foto (detik)

MALANGTIMES - Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Malang memiliki terobosan baru yang diharapkan dapat menjadi solusi pengentasan kemiskinan di wilayah setempat. Rencananya, lembaga penghimpun dan penyalur zakat pelat merah itu akan mencanangkan "kawasan bebas mustahiq". Pelaksanaannya akan diawali dengan membentuk unit-unit pengumpul zakat (UPZ) di masing-masing masjid. 

Baca Juga : MUI Sebut Puasa Ramadan Bentengi Diri dari Covid-19, Imbau Ibadah di Rumah

Kepala Baznas Kota Malang Sapardi mengungkapkan bahwa mulai 2019 ini pihaknya akan membentuk badan amil di masing-masing masjid menjadi UPZ sampai tingkat paling bawah seperti RT/RW dan langgar/musala. "Saat ini, sudah ada hampir seratus masjid dan lembaga yang mengajukan untuk menjadi UPZ. Selain mengumpulkan, nantinya mereka juga punya kewenangan untuk menyalurkan," ujarnya. 

Menurut dia, keberadaan UPZ ini juga akan mendukung program-program pemerintah di bidang sosial. Termasuk mendata golongan mustahiq atau kelompok masyarakat penerima zakat. "Mereka bisa membantu karena kan tahu orang jompo, anak yatim duafa, atau rumahnya yang tidak layak di lingkungannya. Nanti saat ada penyaluran bantuan bisa cepat terpetakan," tuturnya. 

Wakil Kepala Baznas Kota Malang Eddy Sulistyo menambahkan, ke depan UPZ yang terbentuk akan memiliki peran yang lebih banyak. "Melalui UPZ ini, kami akan membentuk kawasan bebas mustahiq. Dalam program ini, diharapkan ada kolaborasi antara UPZ dan para stake holder di satu lingkungan untuk mengentaskan kemiskinan. Nanti akan membuat pilot project dan sistemnya tidak langsung masif, melainkan bertahap," ujarnya.

Eddy menguraikan, sistem bertahap itu dimulai dari mustahiq-mustahiq yang bertempat tinggal paling dekat dengan masjid. "Jadi, nanti akan dipetakan. Sekitar radius 100 meter dari masjid atau UPZ itu misalnya, ada berapa mustahiq yang ada. Nanti akan mana yang betul-betul tidak mampu, ini nanti akan kami garap," tuturnya.

"Modelnya bukan hanya pemberian santunan, tapi juga ada pelatihan dan pemberdayaan ekonomi. Pengentasannya bertahap, berkelanjutan dan mandiri hingga betul-betul ada perubahan ekonomi. Mereka juga tidak menjadi ketergantungan lagi," sambungnya. 

Namun, Eddy menyadari bahwa hal tersebut sangat membutuhkan komitmen dari lingkungan, pejabat di wilayah itu, tokoh masyarakat, warga, dan pengurus UPZ. 
 

Baca Juga : MUI Sebut Puasa Ramadan Bentengi Diri dari Covid-19, Imbau Ibadah di Rumah

Beberapa kawasan yang sudah mengajukan diri, contohnya adalah di Kelurahan Purwantoro dan Kelurahan Sukun. "Selama ini kan sifatnya bantuan itu hanya diberi, tapi program ini adalah program jangka panjang. Tetapi targetnya betul-betul ada hasil perubahan taraf hidup bagi penerima bantuan. Sejahtera dan tidak sementara," terangnya. 

Meski akan mulai direalisasikan pada 2019 ini, program kawasan bebas mustahiq ini tidak akan langsung digeber besar-besaran. "Karena dananya Baznas terbatas, nanti pemberian program ini berdasarkan skala prioritas. Juga ada nilai moralnya, karena bekerja sama dengan UPZ di masjid otomatis nanti orang-orang yang dibantu ini diharapkan akan lebih giat lagi beribadah di masjid setempat," paparnya. 
 

"Ini juga untuk menghilangkan kesan eksklusivitas masjid. Pasalnya, pernah kami temui ada satu masjid mewah miliaran rupiah, di sampingnya persis ada rumah warga yang tidak layak huni. Ini kan menjadi ironi, jangan sampai yang seperti ini makin menjadi-jadi," pungkas Eddy.  

 

Topik
MalangBerita MalangBaznas Kota Malangsolusi pengentasan kemiskinanlembaga penghimpun dan penyalur zakatkawasan bebas mustahiq

Berita Lainnya

Berita

Terbaru