MALANGTIMES - Perusahaan Daerah (PD) Tugu Artha Kota Malang terus berupaya meningkatkan inklusi keuangan pedagang pasar tradisional. 

Pada 2019 ini, badan usaha plat merah itu menargetkan penambahan nasabah di 11 pasar tradisional. 

Direktur PD BPR Tugu Artha Malang Nyimas Nunin Anisah mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya terus berupaya mengenalkan kredit khusus dan program-program perbankan bagi para pedagang pasar tradisional. 

"Memang kan sasaran kami ke pasar-pasar tradisional di Kota Malang. Yang kami layani sekitar dari awal 5 pasar sekarang 17 pasar," tuturnya.

Nunin menguraikan, 17 pasar yang telah terlayani itu di antaranya Pasar Blimbing, Madyopuro, Lesanpuro, Sawojajar, Gadang Lama, Kebalen, Oro-Oro Dowo, Dinoyo, Pasar Bunga, Pasar Burung, Tawangmangu, dan Klojen. 

Menurutnya, pasar-pasar tersebut berhasil dirangkul dalam kurun waktu 3 tahun terakhir.

Dengan total 28 pasar tradisional yang ada di Kota Malang, artinya masih ada 11 pasar yang menjadi pekerjaan rumah bagi BPR. 

"Inginnya semua pasar kami layani, tapi memang ada beberapa pasar yang masih berproses," tuturnya. 

Penyaluran kredit bagi pedagang pasar tersebut, lanjutnya, juga untuk menekan peredaran rentenir atau bank harian. 

Nunin mengungkapkan, saat ini BPR Tugu Artha memberikan bunga pinjaman yang ringan. Yakni sekitar 9 persen per tahun. 

Untuk mempercepat proses inklusi keuangan, BPR juga bekerja sama dengan kepala-kepala pasar. 

"Pengajuan kreditnya mudah, mereka jaminannya hanya menggunakan bedak atau kios yang terdata oleh Dinas Perdagangan," paparnya. 

Pihak BPR, lanjutnya, menggandeng dinas perdagangan dalam proses verifikasi data pedagang. 

"Tetapi syaratnya harus nama sendiri, tidak boleh pinjam ke orang. Kalau atas nama orang tua harus ada surat pernyataan. Yang penting dia terdaftar, punya kartu anggota dan kartu tanda kepemilikan kios atau bedak sudah bisa pinjam," pungkasnya.