MALANGTIMES - Seniman asal Malang kembali mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim). Adalah sosok pria paro baya bernama Sadikin Pard. 

Pelukis yang juga penyandang tuna daksa itu memperoleh Tali Asih Seniman Berprestasi dari Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Meski memiliki keterbatasan fisik, Sadikin tetap menghasilkan karya yang luar biasa dengan melukis menggunakan mulut dan kakinya.

Dalam akun Instagram resmi milik Khofifah (@khoflfah.ip) tampak gubernur perempuan pertama di Jatim itu menggunggah fotonya bersama Sadikin. 

"Meski terlahir difabel dengan kondisi tanpa tangan, "Nawak Ngalam" satu ini mampu membuat karya lukisan dengan menggunakan kakinya. Karya Sadikin pun mampu membawanya ke kancah Internesyenel... Keren kan? Saya bertemu langsung Sadikin saat gelaran Tali Asih Seniman Berprestasi di Kota Surabaya, Selasa (28/5)," tulis Khofifah.

"Buat kamu yang masih sering mengeluh, mungkin kamu terlalu sering untuk melihat ke atas, namun tak pernah melihat ke bawah. Sesekali, tengoklah pandangan kamu ke bawah karena tidak sedikit orang yang menjadi hebat di tengah ke-terbatas-annya. Pesan saya, banyak-banyak bersyukur," tambah mantan Menteri Sosial itu. Unggahan tersebut saat ini telah mendapat ribuan tanda hati dan juga komentar dari warganet.

"Tadi malam saya lihat proses melukisnya Pak Sadikin di Sheraton Hotel, Bu Gub. Lukisan paletnya, luar biasa mengagumkan. Sangat bagus, pastinya mahal karya Pak Sadikin. Salut dan kagum sama karyanya," tulis akun @yatik329. "Terharu melihatnya. Dengan keterbatasan mampu menampilkan karya seni miliknya sendiri. Hidup sebuah pembelajaran agar kita berbuat baik kepada siapapun, banyak bersyukur. Amin. Semangat Ibu Khofifah," tulis akun @moty_cemott. "Salah satu bentuk apresiasi pemimpin kepada rakyatnya! Berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," tulis akun @johnwilly.jcrs.

Terlahir sebagai penyandang tunadaksa tanpa tangan, tidak membuat Sadikin Pard pesimistis dalam menjalani hidupnya. Dalam wawancara dengan MalangTIMES pada April 2019 lalu, Sadikin sehari-hari berproses kreatif di sanggarnya di Jalan Selat Sunda Raya D1/40B Kota Malang. Pria kelahiran 29 Oktober 1966 itu mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi.

Hingga remaja dan kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sadikin terus mengasah kemampuannya meracik warna di atas kanvas. Menginjak semester tiga pada tahun 1989, Sadikin membaca bahwa ada penyandang tunadaksa yang sukses melukis dengan kakinya. Jiwa pelukis Sadikin yang sudah tertanam sejak masih taman kanak-kanak kembali tumbuh.

la melukis, menciptakan karya melalui kakinya dan mengirimkannya ke Association of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki atau mulut. 

Sejak itulah karya Sadikin mulai dikenal. Bahkan kini karyanya telah dipajang di berbagai galeri nasional dan internasional. Termasuk, menjadi koleksi para kolektor di Eropa dan Asia.