Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

MALANGTIMES - Penangkap Tikus
*dd nana
1/
"Percayalah kami pernah akrab. Satu rumah dan saling berbagi. Jauh sebelum benda-benda dilahirkan dari perut mesin dan tanah belum disayat-sayat serupa kulit jarak."
Kami sama-sama bernyawa dan punya mulut. Punya rasa lapar yang sama. Walau kami berbeda. Tapi kami sepaham, hidup bisa saling berbagi, saat segala yang menggelincir di perut bukan hanya untuk memenuhi nafsu.
Dan mata bukan sekedar alat untuk menyerap segala benderang di luar dan dalam diri.
Kami pernah bersama dan berbagi. Sejak penanggalan masih begitu belia dan belum menghuni rumah dan mungkin meja kerja di kamarmu.
Kami yang besar dan berakal yang memelihara. Memastikan setiap perut terisi sesuai haknya. Tidak ada yang menggunting dalam lipatan-lipatan. Tidak ada yang menggunakan gerombolan untuk saling melumpuhkan. 
"Kami pernah bersama. Ada yang mencatat itu terjadi 15 ribu tahun ke belakang. Kau tak percaya ? tidak apa-apa karena memang saya memilih dongeng untuk berkisah."
2/
Langit menggelap. Waktu menyeret kaki kami menuju cahaya. Begitu mereka menyebut sebuah abad yang dicetak dalam buku-buku pelajaran sebagai masa pencerahan.
Eureka, eureka, eureka...
Orang-orang mencipta segala yang telah ada menjadi mengada dimana-mana. Menyeragamkan segala tindakan dan membuat kotak-kotak. Yang membedakan. Yang menceraikan yang membuat perut semakin membengkak lantas mengempis secara drastis dalam momen-momen khusus.
Akrobatik nafsu. Pengakuan yang terlalu. Batas-batas hidup yang ditebalkan dalam setiap kisah. Yang kuat yang menang. Si lemah pasrah saja pada nasib yang dituliskan para pemenang.
"Jadi serupa politik. Bukankah kita sedang membicarakan manusia dan tikus, tuan ?" ucapmu di sebuah sore. Langit mulai menghitam.
Sebuah suara dalam rumah menyentak burung-burung di pepohonan.
"Dasar tikus busuk, pengerat menjijikan. Mati kau penyebar maut!!!".
Kami terdiam. Dan aku pun gegas pulang menuju rumah.
Mengecek alat-alat yang mampu memperangkap para tikus rumah yang sudah mulai keterlaluan. "Entah sejak kapan tikus-tikus beranak pinak begitu cepat. Dasar sialan. Maaaa...aku butuh senapan," 
Di ruang yang entah seorang lelaki asyik menyemburkan asap rokoknya. Di depannya tumpukan uang siap masuk dalam brankas dan rekening pribadinya.
"Lebih untung beternak tikus daripada jadi tikus," ucapnya sambil terkekeh.
Selamat datang perbedaan. Teruslah hidup hingga aku semakin gendut. Tak butuh aku seruling dari Hamelin.
"Kau tahu akhir cerita seorang pria berbaju warna warni yang menggiring gerombolan tikus ke arah sungai dengan serulingnya, bukan?".
3/
Kau tahu pria berbaju warna warni dengan seruling ajaibnya itu? Seruling yang membuat gerombolan tikus se-kota menceburkan dirinya di sebuah sungai terdalam. Dengan alir air yang lewat dan membuat para pengerat meregang nyawa.
Ya, dialah sang petugas partai. Yang dengan lembutnya menyampaikan, "kau punya harapan baru di tempat yang baru. Jadi, ikut aku," ucapnya sambil memainkan serulingnya.
Di tempat yang dijanjikan, pembantaian di mulai. Dan sang petugas partai kembali menuju kota. Mencari anak-anak yang hilang masa depannya.
Dalam tidurnya sang peniup seruling berbaju warna warni, kerap berubah menjadi tikus paling got. Perubahan yang lebih dinikmatinya, sebelum jaga merenggutnya dan kembali menjadikannya petugas partai.
Wajahnya harus kembali dihiasi senyum. Sedang tikus-tikus mulai menyusun barisan. Disudut-sudut gelap dan paling kotor.
"Saatnya telah tiba. Kita biakkan maut hitam."

*Hanya Penikmat kopi lokal