Ilustrasi bullying. (Foto istimewa)

Ilustrasi bullying. (Foto istimewa)



MALANGTIMES - Kasus kekerasan yang terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia termasuk dalam taraf yang memprihatinkan. Berdasarkan catatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2018, kasus perundungan atau bullying lah yang paling banyak terjadi.

Kasus pendidikan per tanggal 30 Mei 2018 menurut data KPAI berjumlah 161 kasus. Rinciannya, anak korban tawuran sebanyak 23 kasus (14,3 persen), anak pelaku tawuran sebanyak 31 kasus (19,3 persen), dan anak korban kebijakan (pungli), dikeluarkan dari sekolah, tidak boleh ikut ujian, dan putus sekolah) sebanyak 30 kasus (18,7 persen).

Sementara itu, anak korban kekerasan dan bullying sebanyak 36 kasus (22,4 persen). Sedangkan, anak pelaku kekerasan dan bullying sebanyak 41 kasus (25,5 persen) kasus.

Bullying sendiri menjadi momok bagi anak di usia sekolah. Bullying dilakukan melalui kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain.

Dijelaskan oleh Pakar Psikologi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB), Ziadatul Hikmiah SPd SPsi MSc, kasus bullying biasanya mencapai puncaknya di usia remaja, yakni masa transisi dari anak-anak menuju dewasa.

Hal ini terjadi karena pikiran pada remaja belum matang, sementara tubuhnya sudah matang. Bersamaan dengan masa itu, masyarakat berharap seorang remaja bisa berperilakukan seperti orang dewasa.

Padahal secara kognitif, seorang remaja masih belum siap menghadapi hal tersebut. Inilah yang menyebabkan masa remaja menjadi labil dan penuh pergolakan.

“Apabila dilihat dari dasar neuroscience, sistem di otak remaja masih belum seimbang dan maturitynya juga belum optimal. Ibaratnya sistem “gas”nya sudah matang, tapi sistem “rem”nya seperti norma dan moral ini masih sedang berkembang. Hal itu menyebabkan seringkali terdapat banyak remaja yang lepas kontrol, menjadi impulsif dan agresif,” papar wanita yang akrab disapa Zia ini.

Zia menegaskan, dampak yang ditimbulkan dari bullying ini cukup berbahaya. Bullying bisa menimbulkan pengaruh yang menetap lama dalam diri individu. Individu yang mengalami bullying bisa berujung pada trauma dan bisa berpengaruh pada masa perkembangan selanjutnya.

Ditambah lagi, jika seseorang mengalami bullying di masa remaja yang notabene merupakan masa mencari jati diri, akan menyebabkan orang tersebut mengalami konflik dalam dirinya. Kemudian, akan berimbas pada pembentukan identitasnya sebagai pribadi.

Sebagai upaya penghentian kasus bullying, para orang tua lah yang seharusnya memberikan pendidikan yang baik dan benar untuk anak-anaknya.

Dikatakan Zia, mengajak anak untuk berkomunikasi dan sharing adalah langkah awal yang mudah untuk menanamkan nilai-nilai yang baik pada anak.

“Orang tua harus memberikan pondasi yang sangat kuat pada anak, tentang bagaimana berperilaku santun, menghargai, welas asih, dan pendidikan akhlak yang baik," pungkasnya.

Apabila itu berhasil dan melekat, anak akan paham cara menempatkan dirinya dan paham cara menghargai orang lain.

End of content

No more pages to load