ilustrasi kasus premanisme, Kabupaten Malang (Foto : Dokumen MalangTIMES)
ilustrasi kasus premanisme, Kabupaten Malang (Foto : Dokumen MalangTIMES)

MALANGTIMES - Gelap mata, membuat Muh Arif alias Mat Durjana warga Jalan Ken Arok, Desa Tulusbesar, Kecamatan Tumpang, harus berurusan dengan pihak kepolisian. 

Pria yang kini berusia 36 tahun ini, diringkus polisi lantaran nekat hendak membunuh orang, Kamis (23/5/2019) siang.

“Tersangka Mat Durjana ini, kami amankan lantaran mencekik dan mengancam hendak membunuh korban,” kata Kapolsek Tumpang AKP Bambang Sodiq, kepada MalangTIMES.com.

Diperoleh keterangan, aksi premanisme itu terjadi di Jalan Kendedes, Desa Tulusbesar, Kecamatan Tumpang. 

Tepatnya sekitar pukul 11.00 WIB, tersangka langsung menghampiri korban yang diketahui bernama ALI (inisial).

Dengan muka geram, tersangka tiba-tiba mencekik korban tanpa alasan yang jelas. 

Mengetahui hal ini, warga setempat berhamburan melerai keduanya. 

Bukannya melepas cekikannya Mat Durjana malah kian bringas, dan hendak menghajar korban.

Beruntung sebelum aksi premanisme semakin parah. Jajaran kepolisian Mapolsek Tumpang, yang saat itu melakukan patroli di sekitar lokasi kejadian langsung mengamankan tersangka, dan menggelandangnya ke Polsek Tumpang.

“Dari hasil penyelidikan petugas, motif dari aksi premanisme ini karena dendam. Tersangka yang salah paham, langsung berniat menghajar korban,” sambung Bambang.

Diketahui, sesaat sebelum mengancam korban Adik kandung pelaku yang bekerja sebagai karyawan penjual es, milik ALI tersebut pulang ke rumah dengan kondisi menangis. 

Tersangka yang menduga jika adiknya disakiti oleh pacarnya langsung mencari ALI, dan berniat membalas dendam.

Sebelum berurusan dengan polisi, Mat Durjana memang sudah akrab dengan tahanan penjara. 

Bahkan dirinya pernah menjalani hukuman, dengan kasus yang sama.

“Mat Durjana Ini merupakan seorang residivis. Karena sifat mudah marah yang dimilikinya, membuat tersangka pernah dipenjara dengan kasus serupa. Lantaran hanya salah paham, kasus ini akhirnya berakhir damai,” tutup perwira polisi dengan pangkat tiga balok di bahu ini.