Emil Dardak saat berdiskusi di UB. (Foto: Humas)
Emil Dardak saat berdiskusi di UB. (Foto: Humas)

MALANGTIMES - Ada beberapa permasalahan yang dihadapi para petani lokal dalam bidang pemasaran. Antara lain faktor kelembagaan dan demand creator.

Baca Juga : Warga Terdampak Covid-19 di Kabupaten Malang, Bakal Dapat Pasokan Makanan Dapur Keliling

Karena itu, dalam memaksimalkan pemasaran hasil pertanian, petani sebaiknya perlu menggunakan teknologi. Hal ini disarankan oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak saat mengunjungi Kota Malang beberapa waktu lalu.

Dia kemudian mencontohkan perusahaan Finna yang awalnya memproduksi kerupuk udang dan saat ini mampu memanfaatkan cabai dengan menghasilkan sambel siap pakai.

"Finna mampu memanfaatkan peluang harga cabai di saat harganya melonjak tinggi. Dia menjual sambel siap pakai dalam bentuk toples yang bisa dinikmati kapan saja meskipun saat itu hasil panen cabe memburuk," katanya saat berdiskusi bersama rektor, wakil rektor, dan dekan-dekan fakultas di Universitas Brawijaya (UB).

Ini artinya, tidak hanya perilaku sumber daya manusianya yang perlu diubah, tetapi juga keberanian dalam melakukan sebuah konversi produk dengan memanfaatkan teknologi. 

Baca Juga : Dinsos-P3AP2KB Salurkan Bantuan bagi 1.666 Warga Miskin

Dalam bidang kelembagaan, permasalahan yang dihadapi petani antara lain pendampingan pihak ketiga dalam memasarkan produknya.

Melalui diskusi tersebut, Emil memberikan solusi bahwa itu bisa dilakukan dengan strategi intervensi pangan. "Kita bisa mencontoh Jepang. Jepang kita lihat GDP (gross domestic product)-nya tinggi. Namun ekspor impornya sedikit. Mobil-mobil seperti Honda onderdilnya dibuat di Indonesia namun mesinnya dibuat di Jepang. Itu yang bisa kita contoh. Jika Jawa Timur tidak punya lahan untuk menanam, maka bisa melakukan ekspansi tanah di luar Jawa tapi pusatnya atau kepemilikannya tetap di Jawa Timur," pungkas mantan bupati Trenggalek itu.