Ilustrasi petugas saat mengevakuasi korban kasus penemuan mayat, Kabupaten Malang (Foto : Dokumen MalangTIMES)

Ilustrasi petugas saat mengevakuasi korban kasus penemuan mayat, Kabupaten Malang (Foto : Dokumen MalangTIMES)



MALANGTIMES - Hingga hari ini, Senin (20/5/2019), umat muslim khususnya di Kabupaten Malang, genap menjalankan ibadah puasa selama dua pekan. Dalam kurun waktu 14 hari itu, masyarakat juga dibuat gempar dengan kasus penemuan mayat. Jika dirata-rata, dalam satu pekan ada tiga kasus penemuan mayat di pertengahan bulan Ramadan ini.

Terbaru, pada hari Minggu (19/5/2019), di waktu yang nyaris bersamaan kasus penemuan mayat terjadi sebanyak dua kali. Insiden pertama terjadi di kawasan Kecamatan Wagir.

Sekitar pukul 14.30 waktu setempat, Dimas Ramadhani, warga Dusun Rekesan, Desa Sidorahayu, Kecamatan Wagir menemukan seonggok mayat mengapung di perairan, saat dirinya pergi memancing di kawasan Sungai Desa Jedong, Kecamatan Wagir.

Berdasarkan penyidikan pihak kepolisian, identitas korban diketahui bernama Sulaiman warga Kelurahan Tanjungrejo, Kecamatan Sukun, Kota Malang. “Penyebab kematian korban diduga kuat karena benturan benda tumpul, akibat terpeleset sebelum akhirnya tenggelam di sungai,” ujar Kanit Reskrim Polsek Wagir, Aiptu Gatot.

Dugaan kematian korban yang murni karena kecelakaan ini, dikuatkan dengan keterangan dari pihak keluarga. Dimana, korban sejak Jumat (17/5/2019) pagi, dinyatakan sudah hilang.

Selain itu, faktor usia juga membuat Sulaiman menderita kepikunan. Lantaran hal inilah, diduga korban sempat beraktivitas di sekitar kawasan sungai yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Sebelum akhirnya kakek 90 tahun itu, jasadnya terbawa arus hingga ke Kecamatan Wagir.

Berselang beberapa jam kemudian, insiden serupa juga terjadi di Desa Sidoasri, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe), Minggu (19/5/2019) sore.

Identitas mayat yang ditemukan warga di kawasan sungai Hutan Gunung Ireng, Desa Sidoasri ini diketahui bernama Buari, warga Dusun Sawur, Desa Sukodono, Kecamatan Dampit.

Berdasarkan hasil olah TKP (Tempat Kejadian Perkara). Kematian korban diduga karena terpeleset dari atas jurang, sebelum akhirnya jatuh ke kawasan sungai yang dipenuhi dengan bebatuan.

Lantaran mengalami luka yang cukup parah, serta tidak ada warga yang mengetahui musibah tersebut. Membuat Buari akhirnya meninggal dunia. “Semasa hidupnya, korban bekerja sebagai penggarap lahan hutan di sekitar lokasi kejadian. Diduga kuat saat menggarap lahan itulah, korban terpeleset dan jatuh ke jurang yang berujung meninggal dunia,” kata Kapolsek Sumawe, AKP Agus Murdiantono.

Sehari berselang, giliran Logidin yang ditemukan meninggal di kawasan persawahan yang berlokasi di Desa Gondanglegi Kulon, Kecamatan Gondanglegi. Pria 43 tahun itu diduga kuat meninggal karena faktor kelelahan, setelah melakukan hubungan badan dengan seorang PSK (Pekerja Seks Komersial) yang disewanya.

Hal itu dikuatkan dengan hasil temuan polisi saat melakukan olah TKP. Saat itu, petugas mendapati satu bungkus obat-obatan, yang diduga obat kuat pria di saku celana korban.

Selain itu, dari keterangan beberapa saksi, warga Dusun Gumukmas, Desa Karangsari, Kecamatan Bantur itu, memang sempat berhubungan badan dengan PSK, yang berinisial ST.

Di hadapan polisi, ST membenarkan jika setelah berhubungan badan, pria 43 tahun itu tiba-tiba tersungkur dan ketika diperiksa warga beserta perangkat desa setempat. Korban dinyatakan sudah meninggal dunia. “Tidak ada luka bekas penganiayaan di tubuh korban, diduga kuat korban meninggal karena kelelahan dan riwayat penyakit yang dimilikinya,” kata Kanit Reskrim Polsek Gondanglegi, Ipda Heriyani.

Di sisi lain, Kasubag Humas Polres Malang, AKP Ainun Djariyah menuturkan, jika kasus penemuan mayat saat bulan Ramadan ini memang marak terjadi. Sebelum ketiga kasus yang terjadi dalam dua hari belakangan ini, peristiwa penemuan mayat juga marak ditemukan, sejak awal Ramadan.

Terhitung sejak tanggal 6 Mei lalu, wilayah hukum Polres Malang digemparkan dengan enam kasus penemuan mayat. “Dari ke 6 kasus yang kami tangani, terdapat 7 mayat,” kata Ainun.

Kasus pertama terjadi pada 6 Mei lalu. Saat itu Wiwit Mulyadi (35) ditemukan meninggal, saat berada di kawasan Pasar Dampit. Warga Desa Tamansari, Kecamatan Ampelgading ini diduga kuat meninggal karena riwayat penyakit stroke yang diidapnya.

Bergeser tiga hari kemudian, giliran dua orang wisatawan Pantai Bajul Mati, yang ditemukan tak bernyawa sesaat setelah berwisata pada 5 Mei lalu. Setelah dinyatakan hilang, jenazah kedua korban yang diketahui bernama Fernanda Nirza Aminudin (19), warga Dusun Suwantoro, Sukodono, Kabupaten Sidoarjo Dan Rendi Rahman Permana, (19) warga Geluran Taman Sepanjang, Kabupaten Sidoarjo, akhirnya berhasil diketemukan pada Rabu (8/5/2019).

Terakhir, Sairin warga Desa Banjarejo, Kecamatan Donomulyo, juga ditemukan tewas mengenaskan di saluran sungai irigasi, pada 10 Mei lalu. Diduga kuat, penyebab kematian korban karena riwayat penyakit jantung yang dimilikinya. Ketika mengairi sawah, penyakit kakek 60 tahun itu kambuh. Sehingga mengakibatkan korban seketika meninggal dunia.

“Jika dirata-rata, kasus penemuan mayat yang ada di Kabupaten Malang selalu didominasi oleh manula (manusia lanjut usia). Selain faktor penyakit kronis, faktor human error juga menjadi penyebab kasus korban ditemukan mendadak meninggal,” tutup AinuS.

End of content

No more pages to load