MALANGTIMES - Perlehatan pertemuan Asosiasi Kabupaten Kota Peduli Sanitasi (AKKOPSI) di Kabupaten Malang, tepatnya di Pujon Kidul, tentunya memiliki dasar kuat. 

Sehingga pemilihan lokasi yang terkenal dengan destinasi wisata cafe sawah-nya, disepakati oleh pengurus sekretariat nasional APPOKSI.

Beberapa pertimbangan terkait pemilihan lokasi Pujon Kidul sebagai tuan rumah APPOKSI yang rencana digelar antara Juli-Agustus 2019, menurut Wahyu Hidayat Kepala Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (DPKPCK) Kabupaten Malang, dikarenakan adanya relevansi dengan tema yang diusung dalam persoalan sanitasi.

Sekaligus untuk mengenalkan salah satu destinasi wisata buatan di Pujon Kidul yang telah menasional namanya. Serta mampu menjadi replika keberhasilan tiga program strategis Kabupaten Malang.

"Pujon Kidul telah lahir menjadi percontohan nasional dalam membangun wilayah desa sampai berhasil mengangkat taraf hidup warga setempat secara luar biasa," kata Wahyu memberikan alasan terkait pemilihan lokasi Pujon Kidul sebagai tuan rumah pertemuan APPOKSI.

Disinggung relevansi dengan tujuan APPOKSI dalam persoalan sanitasi dengan sektor pariwosata, Wahyu mengatakan sangat relevan sekali. 

Dimana, pariwisata  tidak akan bisa terlepas dari baik dan buruknya pengelolaan sanitasi di lokasi wisata maupun dalam warga sekitarnya.

"Pariwisata tidak akan bisa lepas dari persoalan sanitasi. Tidak mungkin desa wisata menjadi ramai dikunjungi kalau persoalan sanitasi masih belum tuntas di wilayah tersebut," ujar Dokter Ilmu Sosial ini kepada MalangTIMES.

Wahyu pun menyampaikan beberapa keunggulan Pujon Kidul yang akan menjadi lokasi pertemuan AKKOPSI.

Pertama, Pujon Kidul telah diakui oleh Kementerian Pariwisata sebagai pariwisata berkelanjutan dengan kategori pemenang hijau, melalui Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) tahun 2018. 

Penghargaan tersebut, secara langsung memperlihatkan bahwa pengelolaan desa wisata Pujon Kidul dilakukan secara berkelanjutan dan mendukung terhadap pembangunan lingkungan hidup di sekitarnya. 

Pariwisata bergandeng ramah dengan lingkungan hidup, sehingga tidak merusak ekosistem kehidupan.

"Konteksnya dengan sanitasi jelas, Pujon Kidul telah mampu menerapkan 100 persen dengan memperlihatkan pengelolaan di wisatanya. Bahkan, satu sama lain saling melengkapinya," ujar Wahyu.

Dasar kedua, Pujon Kidul juga  sebagai replika dari kerja keras dan cerdas masyarakat desa untuk membangun wilayahnya, tanpa menunggu adanya bantuan pemerintahan. 

Sikap itu merupakan fundamen kuat dalam kesuksesan pembangunan di sektor manapun.

"Persoalan sanitasi pun demikian. Karena lebih pada kesadaran bersama untuk membangunnya. Maka gerakan di Pujon Kidul dalam melahirkan desa wisata bisa dijadikan contoh dalam sanitasi juga," ungkapnya.

Pujon Kidul sebagai lokasi pertemuan APPOKSI juga dikarenakan lokasinya merupakan wilayah yang kerap dijadikan studi lapangan berbagai daerah di Indonesia. 

Bahkan di tahun lalu, 42 kepala dinas pariwisata di seluruh Indonesia datang melakukan studi lapangan di Pujon Kidul.

"Jadi banyak hal yang bisa ditawarkan lewat Pujon Kidul sebagai lokasi pertemuan AKKOPSI nantinya pada peserta," pungkas Wahyu.