Peluncuran dan diskusi buku Kaki-Kaki Kecil Ramadan karya dua penulis perempuan asal Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Peluncuran dan diskusi buku Kaki-Kaki Kecil Ramadan karya dua penulis perempuan asal Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Dua penulis perempuan yang bermukim di Malang, Fitrahayunitisna dan Rizka Amaliah menghadirkan sebuah buku berisi kumpulan cerita pendek (cerpen) anak. 

Buku berjudul Kaki-Kaki Kecil Ramadan itu diluncurkan bertepatan dengan peringatan Hari Buku Nasional, Jumat (17/5/2019) malam.

Bertempat di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang (UM), kedua penulis tersebut berbagi kegelisahan atas minimnya jumlah karya sastra untuk anak-anak. 

"Saya miris saat ke toko buku, cerita-cerita anak itu kebanyakan dari luar. Misalnya, Disney dan lain-lain termasuk cerita yang bernuansa Korea," ujar Fitrahayunitisna. 

"Juga buku-buku dongeng Nusantara yang ada di pasaran, kadang tidak sesuai untuk anak-anak. Misalnya dari sisi muatan cerita yang sebetulnya untuk dewasa," tambah Fitra, sapaan akrabnya.

Dosen Universitas Brawijaya (UB) Malang ini menambahkan, rata-rata buku cerita anak juga terlalu berfokus pada tampilan atau banyak gambar. 

Padahal, cerita yang tanpa disertai gambar justru lebih bisa mengasah imajinasi anak. 

Fitra mengungkapkan, keberadaan buku cerita juga merupakan jembatan kedekatan bagi orang tua dan anak. 

Hal tersebut seperti yang dia kenang ketika kecil. 

"Dulu waktu kecil suka dibacakan cerita oleh bapak dan ibu, dulu biasanya dongeng-dongeng dari luar. Itu nggak connect dengan keseharian saya, tapi saya menikmati. Ada juga cerita-cerita yang mereka karang sendiri, dan itu saya ingat dengan detail dan menjadi kenangan indah," sebut perempuan yang juga pendiri Malang Women's Writers Society (MAWWS) itu. 

Sementara, Rizka Amaliah mengaku pada saat awal mendiskusikan penerbitan buku tersebut, keduanya berharap menyajikan cerita yang mampu merangsang kreativitas anak. 

"Misinya, anak berpikir tingkat tinggi sejak dini. Juga mengangkat lokalitas yang sesuai dengan keseharian anak-anak di Indonesia," tuturnya.

Menurut Rizka, selama ini masih banyak kalangan pendidik atau orang tua yang meremehkan kemampuan anak membaca tanpa disertai gambar. 

"Anak-anak katanya tidak punya ketahanan baca yang tinggi. Banyak yang masih meremehkan kekuatan imajinasi. Di buku ini, kami sengaja membuat semacam "lubang-lubang" informasi supaya anak-anak tidak terkotak imajinasinya," tuturnya.

Buku setebal 82 halaman itu, berisi 10 cerita. Kisah yang diangkat merupakan pengalaman lima sahabat bernama Lula, Hamdan, Toto, Nara dan Meilin di bulan puasa. 

Cerita-cerita segar dan sarat pesan moral tersebut sengaja ditulis khusus edisi Ramadan.