Para difabel saat dilatih membatik yang diselenggarakan Disnaker Kabupaten Malang untuk persiapan uji kompetensi membatik di Juni datang (Nana)
Para difabel saat dilatih membatik yang diselenggarakan Disnaker Kabupaten Malang untuk persiapan uji kompetensi membatik di Juni datang (Nana)

MALANGTIMES - Agenda besar untuk masuk dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) atau yang kini diubah menjadi Museum Rekor Dunia Indonesia, sedang dipersiapkan oleh dua organisasi perangkat daerah (OPD) Kabupaten Malang. Yakni Dinas Pendidikan (Disdik) dan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Malang.

Agenda meraih MURI tersebut akan dicapai melalui uji kompetensi membatik masal yang akan diikuti oleh para penyandang disabilitas  di Kabupaten Malang. Dengan jumlah peserta direncanakan bisa mencapai 500 orang lebih dengan usia antara 16-40 tahun.

"Rencananya kita gelar di Dinas Pendidikan atas prakarsa Direktorat Pendidikan. Sekitar akhir Juni 2019 mendatang. Dengan peserta 500 orang yang akan ikut uji kompetisi membatik dari penyandang disabilitas nantinya," kata Nailah Chamidah pimpinan LKP Ganesha yang juga sebagai pengajar dalam kegiatan pembinaan dan pelatihan keterampilan kerja bagi tenaga kerja dan masyarakat melalui pelatihan membaik inklusif, Jumat (17/05/2019).

Acara tersebut nantinya akan diarahkan juga untuk bisa masuk dan dicatat dalam MURI dalam lingkup batik Kabupaten Malang. Dengan para perajinnya berasal dari penyandang disabilitas Kabupaten Malang.

"Kita rencanakan undang pihak MURI nanti di Dinas Pendidikan. Walaupun untuk ini bukan tujuan utamanya. Tujuan kita semua adalah memberdayakan para difabel sehingga mereka bisa mandiri dan punya kepercayaan diri," ujar Naila.

Seperti diketahui, persoalan para difabel Kabupaten Malang, sedang gencar-gencarnya diseriusi oleh Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) di tahun 2019 ini. Yakni, dengan melakukan berbagai pembinaan, pelatihan serta membuka kesempatan bekerja di berbagai perusahaan. Upaya tersebut terus dilakukan Disnaker Kabupaten Malang, seperti dalam kegiatan pembinaan dan pelatihan membatik inklusif bagi para penyandang disabilitas dan masyarakat.

Kegiatan yang menurut Naila dilakukan selama 6 hari efektif ke depan (16-23 Mei 2019) bagi para peserta difabel yang bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) yang ada di Kabupaten Malang. "Pelaksana dari Disnaker untuk persiapan menuju uji kompetisi membatik masal nantinya. Ini melibatkan 50 peserta yang kami asah keterampilannya membatik selama 6 hari ke depan," ujarnya yang didampingi para pengajar batik.

Berbagai pelatihan untuk para difabel yang diselenggarakan oleh Disnaker, baik melalui anggaran daerah maupun dari anggaran bea cukai. Ditujukan agar para penyandang disabilitas bisa produktif dalam kehidupannya. "Sehingga mereka bisa hidup mandiri dan berkarya. Ini bagian dalam program kerja Kabupaten Malang yang sedang terus kita kuatkan di Disnaker," ucap Yoyok Wardoyo Kepala Disnaker Kabupaten Malang.

Untuk mengarah ke sana, maka Disnaker juga menggandeng berbagai lembaga pelatihan kerja (LPK) maupun perusahaan untuk bisa mempekerjakan mereka. "Kita gandeng mereka semua, karena memang tidak bisa kalau hanya pemerintahan saja yang bergerak. Alhamdulillah, respon para pemangku kepentingan sangat baik juga," ujar Yoyok.

Naila juga menyampaikan, agar para penyandang disabilitas benar-benar bisa produktif dan akhirnya mandiri, khususnya dalam keterampilan membatik. "Maka kita adakan uji kompetensi bagi mereka dalam hal batik. Dengan memiliki sertifikat kompetensi, mereka akan semakin terbuka jalannya untuk produktif. Kami juga punya kerjasama dengan perusahaan batik di Malang dan Probolinggo. Jadi mereka bisa terserap nanti di sana," terangnya terkait acara uji kompetensi membatik masal yang merupakan kerja bareng Disnaker, Disdik dan LPK di Kabupaten Malang.