Diskusi foto terkait sorotan media terhadap transgender di Kedai Kopi Kalimetro, Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Diskusi foto terkait sorotan media terhadap transgender di Kedai Kopi Kalimetro, Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Masih maraknya tindakan intoleransi terhadap kelompok minoritas seperti lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di Indonesia tak lepas dari efek framing media. Sorotan berlebihan terhadap orientasi seksual dalam pemberitaan kerap disandingkan dengan stigma negatif seperti tindak kriminal dan kekerasan. Akibatnya, ketika membicarakan tentang hak-hak dasar warga negara, komunitas LGBT banyak menemukan benturan sosial.

Isu tersebut menjadi bahasan utama dalam diskusi Kajian Fotografi Transgender dalam Sorotan Media di Kedai Kopi Kalimetro, Kota Malang. Bincang-bincang yang digelar oleh Pewarta Foto Indonesia (PFI) Malang bekerja sama dengan Lembaga Terakota itu berlangsung Selasa (14/5/2019) malam dengan menghadirkan independent photojournalist Bayu Eka Novanta dan jurnalis perempuan asal Malang, Dyah Ayu Pitaloka. 

Bayu merupakan satu dari 10 penerima beasiswa Permata PhotoJournalist Grant 2018 yang diselenggarakan PannaFoto Institute. Selama tiga bulan, dia menekuni pembuatan foto stori yang mengangkat tema Diversity. Hasilnya, ada 12 frame dalam foto stori berjudul The Good Mother yang mengangkat soal kehidupan seorang transgender di Jakarta.

Foto-foto itu menceritakan  kehidupan Yulianus Rettoblaut atau yang dikenal dengan panggilan Mami Yuli, seorang transpuan yang bermukim di Jakarta. Mengambil peran sebagai ketua Forum Komunikasi Waria Indonesia (FKWI), Yuli selama ini berupaya mengubah stigma trangender yang berakar di masyarakat. 

Sebagai aktivis, Yuli membuat rumah singgah khusus bagi para transgender lanjut usia agar tetap berdaya. Dia juga berusaha merampungkan gelar sarjananya dan terus mengajak transpuan lain untuk berani menempuh pendidikan formal setinggi mungkin. Sebagai seorang manusia, beberapa foto yang ditampilkan juga menunjukkan aktivitas ibadah Yuli.

Kehidupan privat Yuli yang tak kalah menarik, yakni upayanya mengadopsi dan menghidupi empat orang anak. Yang tertua berusia 18 tahun dan duduk di bangku SMA. Sementara yang paling kecil, balita usia kurang dari satu tahun yang nyaris menjadi korban aborsi akibat kehamilan yang tidak diinginkan. "Mami Yuli percaya bahwa anak-anak adalah anugerah dari Tuhan," ujar Bayu.

Sementara itu, Dyah Ayu Pitaloka mengungkapkan bahwa selama ini, penulisan media tentang LGBT masih banyak yang terkesan stereotype. Misalnya generalisasi mengenai sifat atau karakter semua anggota kelompok bahwa transpuan itu identik dengan pekerja seks, cabul, kekerasan, dan lain-lain. 

Reportase juga sangat bias moralis, sehingga memperkuat stigma LGBT. Pipit juga mencontohkan saat ada kejadian pencopetan yang pelakunya LGBT. Ada media-media yang justru men-highlight statusnya dengan judul seperti Tukang Parkir Homoseksual Copet Dompet Ibu-Ibu atau semacam itu. Nyatanya, hal serupa tidak diterapkan bila pencopetnya merupakan heteroseksual. "Padahal, orientasi seksual ini kan ranah privat seseorang. Dan kejahatan pencopetan baik dilakukan oleh LGBT atau bukan tetap tindak kriminal," paparnya.

End of content

No more pages to load