Dekan FE UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Nur Asnawi MAg saat ditemui di kantornya. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Dekan FE UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Nur Asnawi MAg saat ditemui di kantornya. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Lesunya perekonomian di jalur Pantura usai pembukaan tol Cipali menjadi warning bagi pemerintah daerah (pemda) di Malang Raya, terutama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang. Pasca pembukaan tol Malang-Pandaan (Mapan), muncul risiko lanjutan, yakni pelambatan ekonomi mikro di jalur nasional dari Malang hingga Pandaan. 

Dekan Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang Dr Nur Asnawi MAg mengungkapkan bahwa infrastruktur memiliki peran dalam pengembangan ekonomi di suatu wilayah. "Dalam Islam itu, memang tujuan pengembangan ekonomi kan untuk kemaslahatan bersama. Harus ada piranti yang dipenuhi. Di antaranya jalan raya untuk akses perekonomian dan pemasaran," tuturnya. 

Terlebih, melihat antusias warga pengguna jalan untuk memanfaatkan tol yang diresmikan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), kemarin (14/5/2019). "Informasi yang saya terima, seiring dibukanya tol, dalam satu jam sekitar 500 kendaraan melintas, itu kan luar biasa. Dari sisi positifnya bagus sebagai sarana infrastruktur penunjang," ujarnya.

Namun, sisi positif pembangunan juga diimbangi sisi negatif yang harus diantisipasi dengan bijak oleh pemerintah. "Tetap ada plus-minusnya. Minusnya itu, sepanjang jalan raya Pandaan-Malang yang dulu dilalui masyarakat dan sekarang tidak (karena sebagian pengguna jalan memilih tol), itu kan omzet penjualan pasti turun. Aktivitas ekonomi di jalan nasional yang aktif akan turun karena jumlah kendaraan yang melintas berkurang," terang pria kelahiran 1 Desember 1971 itu.

Meski nantinya tol akan menyediakan fasilitas rest area yang terbuka untuk area perdagangan, Asnawi menilai hal tersebut belum cukup. "Di dalam memang ada rest area. Tetapi kan yang mengakses terbatas bagi yang kuat menyewa di sana. Menurut saya, ini masih harus dikaji, lebih besar kemanfaatan karena mengurai macet. Kan itu tujuannya, tapi apa sudah diimbangi kajian terkait efek ekonomi lanjutan," sebutnya.

Asnawi menilai, akan ada kelompok masyarakat masyarakat yang mungkin akan merasa terganggu atau shock karena pendapatannya berkurang. "Butuh sentuhan dari pemerintah kabupaten itu agar tidak mereka yang punya usaha di sepanjang jalan nasional tidak gulung tikar seperti imbas tol Cipali terhadap pedagang jalur Pantura. Mungkin dengan semacam relokasi atau dibuatkan tempat karena mereka sumber kehidupannya dari berjualan," tuturnya.

Dia juga mencontohkan efek pembangunan Flyover Mergosono di Jalan Kolonel Sugiono, Kota Malang. "Dulu di Kota Malang pernah, pembangunan jalan layang di Mergosono. Warga sempat menolak karena kan dominasinya pedagang kaki lima. Mereka tingkat penganggurannya naik dan kaget. Sektor ekonomi di kawasan itu sempat terganggu tapi saat ini sudah mulai beradaptasi," terangnya.

Dia menambahkan, pertumbuhan ekonomi tidak bisa dilihat hanya dari sisi pendapatan atau tingkat konsumsi. Angka pengangguran dan kemiskinan juga dilihat. "Dengan dibangunnya tol itu apakah menambah kemiskinan atau mengurangi pengangguran. Tapi jangka panjang, jika infrastruktur tertata dan pembangunan berkembang, kebutuhan tenaga kerja meningkat, ini kan berarti bagus," pungkasnya. 

Seperti diketahui, saat ini tol Malang-Pandaan sudah bisa diakses secara gratis untuk seksi I hingga III atau dari Pandaan sampai Singosari, Kabupaten Malang. 

End of content

No more pages to load