Kepala Divisi Pengembangan Produk BBJ, Lukas Lauw saat mengenalkan transaksi berjangka komoditi di Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Kepala Divisi Pengembangan Produk BBJ, Lukas Lauw saat mengenalkan transaksi berjangka komoditi di Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Tren syariah di dunia bisnis juga mulai masuk ke dunia trading atau jual beli instrumen investasi dalam jangka waktu tertentu. Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau Jakarta Future Exchange (JFE) misalnya, kini tengah mempersiapkan produk kontrak berjangka berbasis emas yang memenuhi unsur syar'i. 

Kepala Divisi Pengembangan Produk BBJ, Lukas Lauw mengungkapkan bahwa pihaknya menargetkan komoditi syariah berbasis emas itu bisa mulai melantai pada 2019 ini. Namun, pihaknya masih menunggu izin dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan RI. "Tergetnya 2019 ini sudah mulai. Kami sudah masukkan usulannya ke Bappebti tetapi masih belum turun izinnya," ujar Lukas saat ditemui di Kota Malang.

Menurutnya, kontrak berjangka syariah tersebut untuk menjaring investor atau trader yang ingin berinvestasi secara syar'i. Meskipun pada dasarnya, lanjut Lukas, kontrak berjangka sebenarnya tidak bisa syariah karena memang tidak bertransaksi langsung. "Komoditi itu hanya dasarnya, tapi yang terjadi kan transaksi itu kontraknya paper atau di atas kertas saja. Sementara komoditasnya sendiri tidak bergerak, makanya tidak syariah," tuturnya. 

"Nah, kami mau menciptakan konsep yang syariah di mana emas ini ada jual beli. Kontrak dan pembiayaannya yang syariah. Misalnya punya emas 1 ons atau 100 gram itu ada emasnya. Ini juga melibatkan pialang-pialang kami," tegas Lukas. Artinya, dari sistem perdagangan juga akan berbeda dengan kontrak emas berjangka biasa. Dia mencontohkan ketika orang akan membeli emas 1 ons atau 100 gram di harga 50 juta, tetapi hanya memiliki uang Rp 20 juta. Maka, sisa Rp 30 juta itu bisa dibayar dengan cara cicilan. 

Untuk membayar cicilan, pembeli bisa meminjam dana ke pihak lain dan emas tersebut sebagai jaminan. Sedangkan keuntungan bagi investor, nanti tetap akan seperti jual beli pada umumnya. "Kontrak peminjamannya itu sendiri nanti berdasarkan kaidah syariah, seperti tidak boleh berbunga dan modalnya murabahah," pungkas Lukas.

End of content

No more pages to load